Kamis, 29 Desember 2011

TUGAS PRODUKSI TERNAK UNGGAS PENGARUH IKLIM DAN MENAJEMEN PERKANDANGAN TERHADAP KUALITAS DAGING DAN KARKAS AYAM BROILER



TUGAS PRODUKSI TERNAK UNGGAS
PENGARUH IKLIM DAN MENAJEMEN PERKANDANGAN TERHADAP KUALITAS DAGING DAN KARKAS AYAM BROILER



TEKNOLOGI HASIL TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2009





PENDAHULUAN


           Secara turun temurun ayam lokal di Indonesia telah dipelihara oleh masyarakat,umumnya yang berada di pedesaan. Posisi ayam lokal di pedesaan tersebut cukup strategis,mulai dari yang bersifat kesenangan sebagai hewan piaraan sampai tabungan keluarga.Selain itu pemeliharaan ayam tokal ada yang ditaklukan secara komersial untuk memperoteh penghasilan pokok.Pemeliharaan secara tradisionat,semi intensif,dan intensif dapat dijumpai di masyarakat.Bagaimanapun juga,setelah melihat dan menelaah berbagai manfaat ayam lokal bagi kehidupan manusia,sudah barang  tentu perlu dikembangkan suatu cara pemeliharaan ayam lokat yang baik dan layak.
             0leh karena itu cara pemeliharaan ayam lokal harus dikembangkan berdasarkan kebutuhan ayam itu sendiri secara optimal dan memenuhi berbagai kebutuhan untuk kehidupannya.Pengembangan cara pemeliharaan ayam lokal sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor,seperti keragaman karakteristik fenotipe,karakteristik reproduksi,dan karateristik penurunan sifat-sifat khas pada turunannya.Karateristik ayam tokal Indonesia beragam mulai dari ayam hutan yang sudah didomestikasi menjadi ayam lokal,sampai ayam dari luar Indonesia,yang kemudian berkembangbiak dan beradaptasi menjadi salah satu kelompok sumber daya genetik ayam di Indonesia.




 Padang,1 April 2009











BAB I
TINJAUAN PUSTAKA

Anak ayam dan ayam muda Anak ayam yang diasuh 'akan mengikuti tingkah laku yang langsung atau tidak tangsung diajarkan induk pengasuhnya. Datam hal mematuk pakan, anak ayam yang baru menetas, kelihatannya otomatis akan mematuk objek yang berbentuk butiran. Rata-rata bobot badan (BB) doc (day old chick) atau anak ayam baru menetas sampai umur sehari berkisar antara 29 - 36 g dengan lingkar dada (LD) 5 cm, panjang tubuh (PT) 4 cm dan tinggi keseturuhan pada posisi normal sampai ujung kepala mencapai (TN = tinggi normal) 10 cm. Tubuh tertutup dengan bulu halus seperti kapas.
Pada pemeliharaan intensif yang baik anak ayam ini akan tumbuh sampai umur 4 minggu mencapai BB 100 - 200 g, LD 13 cm, PT 11 cm dan TN 20 cm. Pada umur 8 minggu mencapai BB 300 - 500 g, LD 17 cm, PT 14 cm dan TN 25 cm. Pada umur 12 minggu mencapai BB 600 - 900 g, LD 23 cm, PT 27 cm dan TN 40 cm. Wafiatiningsih dkk. (2005) melaporkan bahwa ayam Nunukan mencapai dewasa kelamin pada umur 5-6 bulan, BB 900 - 1200 gram, LD 31 cm, PT 17 cm dan TN 40 cm. Ukuran di atas merupakan ukuran rata-rata ayam lokal, sementara pada ayam Petung umur dewasa ketamin dapat mencapai 1,5 - 2 kali ukuran di atas.
 Sebagai respon pada suhu ruang kandang, anak ayam akan bergerombol untuk menghangatkan tubuh apabila suhu ruangan dibawah suhu nyaman dan akan mencoba untuk memisahkan diri dari gerombolan apabila suhu ruangan terlalu hangat (± 20 - 24°C). Apabila disediakan sumber pemanas dalam kandang,dan apabila suhu terlalu hangat, maka anak ayam akan menjauh dari sumber panas, serta akan bergerombot mendekat apabila suhu ruangan mulai dingin. Sementara untuk ayam muda dengan bulu penutup tubuh yang lebih sempurna dan suhu ruangan melebihi suhu nyaman maka akan menjauhkan diri dari kerumunan. Bertambah lebatnya bulu penutup tubuh maka ayam semakin kuat untuk metindungi diri dari udara dingin. Sedangkan untuk mempertahankan tubuh dari cekaman panas, ayam bernafas terengah-engah (panting) dengan menurunkan kedua sayap dan berusaha mencari tempat yang jauh dari sumber panas. Karakter lain yang perlu dicermati pada ayam lokal adalah kereritanan terhadap penyakit, sehingga pencegahan terhadap penyakit perlu ditakukan secara balk dan teratur.
Beberapa penyakit yang sering menyerang ayam lokal disebabkan oleh virus (Newcastle desease, Avian influenza, fowl pox, Mareks, infectious bronchitis, laringotracheitis, avian encephalomyelitis, gumboro). Sedangkan penyakit lain disebabkan oleh bakteri (Salmonella, kolera, coryza, colibacillosis, omphalitis, hepatitis), mikoplasma (cronic respiratory desease), protozoa (coccidiosis), jamur (aspergilosis), kapang (mycotoxocosis), parasit (cacing) dan serangga kecil (kutu). Respon ayam terhadap penyakit tersebut terlihat secara jelas pada tampilan seperti ayam yang sakit, tidak mau makan, kurus, dan mati, bahkan dapat mati mendadak baik individu maupun masal setelah terjangkit datam waktu singkat. Ada pula penyakit yang tidak begitu kelihatan dari tampilan ayam, tetapi menyebabkan produktifitas terganggu. Umumnya gejala ini sering dikaburkan sebagai respon ayam terhadap lingkungan yang kurang mendukung dan bukan karena penyakit subklinis.



























BAB II
METODE


       I. LANTAI KANDANG, TEMPAT PAKAN, DAN MINUM
Ayam dewasa Tatalaksana perkandangan yang disarankan dalam hat ini adalah tatalaksana pemetiharaan semi intensif dan intensif, sehingga kuatitas ayam yang dipelihara sangat tergantung pada pasokan (input) dari tuar yang harus  kita sediakan. Kandang dan peralatan kandang, seperti tempat pakan, minum, sarang dan tempat bertengger, bahkan tempat mandi pasir, harus disediakan sedemikian rupa sehingga dapat memberikan suatu kenyamanan hidup, berproduksi dan reproduksi dengan optimal. Kandang harus memenuhi beberapa persyaratan seperti mampu menampung sejumlah ayam tanpa memberikan cekaman karena kepenuhan dan/ atau juga tidak terlalu longgar. Selain ruang, suhu kandangpun harus dapat metindungi dari cekaman panas terutama di daerah tropis seperti di Indonesia, sehingga untuk itu pertu adanya suatu ventilasi yang memadai untuk sejumlah ayam yang ada di datam kandang. Selain dari pada itu kandangpun harus kering dan tertutup dari binatang pemangsa yang kemungkinan mengganggu kesetamatan ayam yang ada di dalamnya. Ukuran kandang sangat ditentukan oleh ukuran tubuh ayam yang akan dikandangkan.
 Ukuran tubuh meliputi BB (bobot badan), LD (tingkar dada), PT (panjang tubuh) dan TN (tinggi pada posisi tegak normal). Pada kandang koloni, yaitu kandang yang dipersiapkan untuk menampung sejumlah ayam secara optimal yang luasannya dipersiapkan sedemikian rupa sehingga dapat mengakomodasi berbagai karakteristik kerumunan (social behaviour) yang diuraikan di atas. Kandang batere atau kandang individu yaitu kandang yang disediakan dengan luasan yang juga cukup untuk mengakomodasi karakter individu, yang tidak terlalu banyak untuk mengakomodasi pengaruh karakteristik kerumunan, meskipun sedikit mengurangi kesempatan berinteraksi dengan sesamanya. ]
Pertimbangan Generasi Produksi telur selama 6 bulan (butir/ekor) ( % ) G-0 53,32 29,53 _ G-1 68,99 38,12 P G-2 76,22 42,17 G-3 89,10 48,96 G-4 79,70 46,65 pemilihan jenis kandang pada umumnya akan dipengaruhi oleh biaya pembuatan,namun dengan adanya perkembangan kesejahteraan ternak (animal welfare) sejak akhir tahun 70-an dan saran ini memang cukup adil diadopsi untuk memelihara ayam lokal Indonesia untuk dapat menjalani kehidupan ayam dengan nyaman. Beberapa kriteria sistem pemeliharaan ayam petelur juga cocok untuk sistem pemeliharaan ayam local.
Kriteria sistem pemeliharaan ayam petelur berlabel oleh European Communities Trading Standards Regulation (ECTSR) Sumber: CEC, (1985 dalam Appleby et at., 1992) Bagaimanapun juga pemilihan seseorang untuk membangun kandang akan sangat ditentukan oleh nilai biaya pembuatan, sehingga tidak jarang pembuatan kandang kurang layak untuk kehidupan ayam. Kandang batere atau kandang individu, bahkan kandang koloni terbatas untuk sistem pemeliharaan secara intensif dapat dipraktekan untuk ayam lokal. Luas lantai 450 cm 2/ekor ayam (Baker 1988 dalam Appleby et at., 1992) yang direkomendasikan European Commission untuk daerah empat musim (temperate) untuk ayam lokal ukuran sedang, kelihatannya terlalu kecil untuk di Indonesia yang bermusim tropis, sehingga ukuran minimum Luas lantai 560 cm2/ekor dan ukuran lebih besar lagi untuk ayam-ayam lokal tipe besar seperti ayam Pelung.       
         Tipe kandang untuk ayam lokal Indonesia, sementara ini belum dapat dikelompokan sebagai tipe kandang ayam pedaging, yang mempunyai pertumbuhan yang cepat, tetapi dapat mengadopsi tipe kandang untuk ayam petelur ras, karena ayam lokal kita sifatnya masih dual purpose (dwiguna). 140 7(eanefjragaman Sum6er(Daya 7fayatiAyam Lo(tg(lndonesiar fKanfaat dan cPotensi Label Kriteria (a) Free range (sistem umbar) Ayam diberi kesempatan seharian di atas lahan berpagar dalam udara terbuka Lahan tertutup oleh tetumbuhan, seperti rumput Maksimum kepadatan kandang 1000 ayam per hektar atau 10 m2 lahan per ekor Tersedia bangunan kandang seperti yang didefinisikan pada (c) dan (d) (b) Semi-intensif Ayam diberi kesempatan seharian di atas lahan berpagar dalam udara terbuka Lahan tertutup oleh tetumbuhan, seperti rumput Maksimum kepadatan kandang 4000 ayam per hektar atau 2,5 m2 lahan per ekor Tersedia bangunan kandang seperti yang didefinisikan pada (c) dan (d) (c) Deep litter Maksimum kepadatan kandang7ekor per ml lantai tersedia untuk ayam Lantai harus tertutup oleh bahan litter seperti jerami, serbuk gergaji, sekam, atau pasir (d) Perchery (barn), kandang dengan tenggeran Maksimum kepadatan kandang 20 ekor per mZ lantai tersedia untuk ayam Tersedia tenggeran di dalam kandang yang menyediakan ruang 15 cm per ekor ayam Indikasi atami yang dapat diperhatikan dalam mengelota system perkandangan yang baik adalah tingkah laku ayam yang terlihat cukup nyaman dalam metakukan berbagai aktifitas kehidupan dan produksinya, seperti tingkah laku makan, minum, istirahat dengan berdiri atau rebahan, menelisik butu dan bercengkerama sesamanya dengan nyaman.
 Beberapa indikasi yang kurang nyaman seperti terengah-engah (panting) menandakan kurangnya ventitasi dan tingginya suhu dari suhu nyaman (21 - 24°C), patuk bulu (feather pecking) sampai kanibal sebagai akibat gelisah. Sesungguhnya sebagai hewan homeothermic, ayam dapat memeliharan suhu tubuh dalam kisaran suhu ruang yang lebar; untuk ayam tipe dewasa ringan dapat tahan dalam kisaran yaitu -1°C sampai 37°C (Esmay dalam Appleby et al., 1992), namun tentu saja dalam kisaran ekstrim rendah dan tinggi akan terjadi gangguan metabolisme metalui mekanisme makan dan minum. Oleh karena itu untuk ayam petelur direkomendasikan untuk menjaga suhu ruang pada kisaran 21 - 24 °C. Selain penyediaan ruang gerak yang memadai, tempat minum dan pakan harus cukup tersedia. Untuk ayam lokat tipe ringan, ruang untuk minum harus disediakan sebesar 2,5 cm dan untuk makan sebesar 5 cm per ekor ayam dewasa (Oluyemi dan Roberts 1979).
Anak ayam dan ayam muda Pemetiharaan yang disarankan di sini adalah minimal pemeliharaan secara semi intensif. Induk ayam dipelihara dalam suatu lahan terbuka atau tertutup dan hanya diberi kesempatan untuk mengeramkan telur sampai menetas. Anak ayam yang baru menetas langsung dipisahkan dari induknya dan dipelihara datam
kandang indukan (brooder). Persyaratan luas lantai, tempat makan, tempat minum, suhu dan ventilasi harus dipenuhi untuk memberikan kesempatan hidup dan tumbuh secara nyaman bagi anak ayam hingga menjadi ayam dewasa. Was lantai dan suhu kandang untuk ayam dengan berbagai umur harus disiapkan seperti disajikan dalam label 6.5 di bawah ini. Tabel 6.5. Peruntukan pada kandang kotoni bertantai kawat dan suhu ruang untuk ayam local Sumber: Otuyemi dan Roberts (1979) disesuaikan dengan kondisi ayam tokat Indonesia Kandang koloni yang dimaksud datam Tabel 6.5 ini adalah kandang Tertutup berlantai kawat atau bambu jarang, sehingga kotoran dapat jatuh ke
bawah. Lantai kandang dengan sistem litter dapat diisi dengan sekam, serbuk gergaji atau jerami kering. Untuk kandang yang di datamnya disediakan tenggeran,
TataIaksana cPemelilmraanAyam Gokal 14 1
Umur ayam (minggu) Jumlah ayam per m` (ekor) Suhu ruang (°C)
0-2
_
60 32
2-4 _ 50 27
4-6 40 24
6-8 30 21
8-10 20 21
10- 12 10 21
Maka jumlah ayam per kandang bisa ditingkatkan sampai dua kali lipat, terutama sejak ayam muda berumur di atas 6 minggu. Anak ayam yang baru menetas tidak dapat mempertahankan suhu tubuh 39°C (homeothermy) pada suhu ruang 26°C, sehingga suhu ruang harus berkisar antara 30 - 32°C. Suhu ruang harus diturunkan sedikit demi sedikit dengan bertambahnya umur dan mencapai 24°C pada umur 8 minggu dimana tubuh ayam sudah tertutup penuh dengan butu dewasa. Suatu indikasi alami yang dapat kita perhatikan dalam memelihara anak ayam adalah tingkah taku kelompok dalam kandang. Apabila dalam kondisi suhu yang nyaman, maka anak ayam tersebut akan menempati ruang menyebar di seluruh lantai dan akan mengumpul pada satu sudut apabila suhu ruang turun, kemudian akan menjauhi sumber panas apabila suhu ruang tinggi. Tempat pakan dan minum untuk anak ayam secukupnya dengan melihat keleluasaan mematuk pakan dan minum. Tempat pakan dan minum pada umumnya masih ditempatkan di dalam kandang sampai anak ayam berumur 6 minggu,kemudian tempat pakan dan minum ditempatkan disisi War kandang.

        II. GIZI DAN BAHAN PAKAN

Penyediaan pakan untuk ayam akan ditentukan oleh beberapa faktor
yakni: 1) jenis, jumlah dan komposisi umur ayam yang dipelihara yang akan menentukan kebutuhan gizi dan volume yang harus disediakan; 2) ketersediaan
dan kebertangsungan bahan pakan lokal setempat dalam upaya menekan harga
pakan; 3) formulator pakan yang setalu membuat formula pakan yang sesuai dengan perkembangan harga setempat. Dalam memahami aspek pakan, faktor efisiensi harga harus menjadi pertimbangan, karena sekitar 70% dari biaya
pemeliharaan di alokasikan untuk memenuhi pakan Dalam kaitannya dengan pakan, pengertian ayam lokal biasanya
disetarakan dengan ayam Kampung sebagai rumpun ayam yang menempati populasi terbanyak dari ayam lokal, meskipun beberapa pertimbangan untuk ayam besar seperti Pelung atau ayam kecil seperti Wareng harus diperhatikan. Dengan sistem pemeliharaan intensif yang mengandalkan penyediaan kebutuhan pakan dari luar; artinya ayam tidak mempunyai kesempatan mencari pakan
sendiri, seperti halnya dengan sistem diumbar.
Gizi pakan
Kebutuhan gizi pada umumnya berfungsi sebagai produksi telur dan
daging. Pada umumnya formula pakan memakai saran dan rekomendasi dari
berbagai hash penelitian di dalam maupun di luar negeri untuk ayam tipe ringan.
Kebutuhan gizi ayam lokal pada berbagai fase disajikan pada Tabel 6.6. Tabel ini
merupakan nilai-nilai yang diambit dari berbagai laporan (NRC, 1994, Umar dkk., 1992, Zainuddih dkk. 2004, Otuyemi dan Roberts, 1979) yang di rekatkutasi oleh
Zainuddin (2006). Gizi pakan seperti tertera. pada Tabel 6.6 dapat diperoleh dari berbagai
bahan pakan konvensional maupun inkonvensional. Pemberian satu jenis bahan pakan saja tidak dapat memenuhi semua gizi yang dibutuhkan ayam, oleh karena itu pakan harus diramu dari berbagai bahan pakan yang dihitung berdasarkan kandungan gizi dalam bahan pakan dan kebutuhan untuk masing-masing umur. Air minumAir minum sangat diperlukan untuk berlangsungnya metabolisme dalam tubuh ayam. Air minum sebenarnya dapat juga diperoleh dari bahan pakan itu sendiri yang dapat menyediakan sekitar 5-14% sebagai air metabolit. Kualitas air minum sebaiknya sama dengan kuatitas air yang kita minum. Suhu air minum` sebaiknya sekitar 10 - 11°C meskipun di daerah tropis sedikit tebih tinggi..
 Pada suhu air minum 35°C ayam menurunkan konsumsi air minum dan berhenti minum apabila suhu air lebih tinggi. Kebutuhan air minum secara umum diperkirakan sebanyak 2 - 3 kg setiap kg konsumsi pakan. Air minum tidak boleh mengandung garam yang dapat mengakibatkan mencret karena bersifat laxatif. Air minum harus bersih bebas dari kontaminasi kotoran atau litter (Oluyemi dan Roberts, 1979). Konsumsi air minum dapat meningkat sampai 50% pada suhu ruang 33,3°C bahkan akan meningkat dua sampai tiga kati konsumsi air minum pada suhu ruang yang lebih panas lagi.
Energi Energi secara umum dibutuhkan untuk: 1) kebutuhan hidup pokok atau
memelihara keberlangsungan hidup, 2) pertumbuhan daging, Lemak dan tulang serta bulu, 3) produksi telur dan 4) deposisi temak tubuh untuk fungsi tertentu, seperti cadangan energi dan pelindung organ-organ tertentu. Ukuran energi yang dibutuhkan untuk ayam adalah energi metabolis, karena energi ini merupakan energi pakan yang tertahan dalam tubuh setelah dikurangi energi dalam feses dan urin (asam urat) yang menjadi satu. Energi metabolis diperoteh sebagian besar dari karbohidrat, temak dan protein yang berasal dari tumbuhan maupun hewan.
Protein Protein dibutuhkan sama halnya dengan energi, namun protein ini lebih banyak dimanfaatkan sebagai pembentuk jaringan tubuh untuk tumbuh, perbaikan jaringan tubuh yang rusak dan pembuatan telur. Karkas ayam muda mengandung
Umur ayam (minggu) Gizi pakan 0-8 (starter) 8-12   
12-18 (grower 1) . (grower 2) 18 - 70 (layer) Bibit
Air minum 2-3 kali jumlah ransum yang dikonsumsi Energi, (kkal/kg) 2900 2900 2900 2750 2750 Protein, (%) 18-19 16-17 12-14 15 15-16 Lemak kasar, (%) 4-5 4-7 4-7 5-7 5-7 Serat kasar, (%) _ 4-5 4-5 7-9 7-9 7-9 Kalsium, (%) 0,90 1-1,2 1-1,2 2,75 2,75 P er, (%) 0,40 0,35 0,30 0,25 0,30 Asam amino Lysine, (%) - 0,85 0,60 _ 0,45 0,70 0,70 Asam amino Metionine, (%) 0,30 0,25 0,20 0,30 0,30 J
protein sampai 65% (berdasar bahan kering), sementara telur mengandung protein mencapai 50% (berdasar bahan kering). Begitu juga dengan bulu, enzym dan hormon mengandung protein. Protein merupakan bentuk kompteks dari kumpulan unit terkecil yaitu asam amino yang dimanfaatkan tubuh. Asam amino diperoleh setelah terjadi metabolisme protein yang berasal dari pakan. Di dalam tubuh menghasilkan kurang lebih 20 jenis asam amino, yaitu asam amino esensial yang harus dipenuhi dari pakan dan asam amino non esensiat yang disintesa oleh jaringan tubuh. Asam amino esential terdiri dari arginine, cystine, histidine, isoluesine, leusine, lysine, methionine, phenilalanine, threonine, tryptophan, tyrosine, dan valine. Asam amino non esensial terdiri dari alanine, aspartate, glysine, hydroxyproline, praline, dan serine. Lysine, methionine, cystine, dan triphtophan sering dinamakan sebagai asam amino kritis, karena tidak mudah untuk disediakan dari bahan pakan. Oleh karena itu dalam formula ransum, asam amino lysine dan methionine sering dibubuhkan, karena untuk kedua asam amino ini sudah tersedia bahan dalam bentuk sintetis dan mudah diperoleh di pasar.
Lemak Lemak biasanya diperoteh dalam bentuk minyak nabati dan Lemak hewani. Lemak biasanya dimanfaatkan sebagai bahan untuk dapat meningkatkan kandungan energi pakan, karena mengandung energi cukup tinggi sekitar 9400 kkal/kg pakan dibandingkan dengan karbohidrat yang hanya berkisar 3000 kkal/ kg pakan. Selain untuk energi, Lemak mengandung asam-asam Lemak yang diperlukan tubuh seperti asam Lemak linoleat dan arachidonat sebagai asam Lemak esensiat yang tidak dapat disintesa dalam tubuh.
Serat kasar Serat kasar dalam hat ini dipakai sebagai istilah untuk senyawa polisakarida non-pati (non-starch polysacharides). Serat kasar sebagian besar tidak dicerna oleh ayam tetapi dikeiuarkan kembali dalam feses. Pengaruh negatif dari serat kasar terhadap kecernaan dan absorpsi disebabkan oleh peningkatan viskositas digesta (pakan dalam saturan pencernaan) dan mempengaruhi kondisi fisiologis serta ekosistem saturan pencernaan. Pengaruh tersebut dapat mempercepat waktu transit digesta, meningkatkan kehilangan zat gizi endogenous, merubah pola pencernaan dan penyerapan. Hat tersebut akibat adanya perubahan kondisi pencernaan enzimatik dan fermentasi oleh mikroba. Oleh karena itu kadar serat kasar dalam ransum tidak boleh melebihi 5% untuk ayam muda dan 9% untuk ayam dewasa.
Mineral Mineral diperlukan untuk pembentukan kerangka dan hidup pokok, disamping sebagai pembentuk kerabang telur dan fungsi fisiologis lain. Mineral yang banyak diperlukan adalah kalsium, pospor, natrium, kalium, magnesium dan klorin. Kebutuhan mineral yang tertera pada Tabel 6.6 adalah kalsium dan pospor karena diasumsikan bahwa.katsium dan pospor perlu keseimbangan dalam pakan. Mineral lain termasuk mineral mikro, dapat dipenuhi dengan membubuhkan 0,2% dari minerals-vitamins mixture buatan pabrik.
Kandungan kalsium, pospor dan magnesium dalam tulang mencapai 25%, 12% dan 0,5%. Kandungan kalsium dalam telur mencapai 40% yang sebagian besar terdiri dari senyawa CaCO3 (98%). Sekitar 50 - 60% kalsium pakan terdapat dalam tenur. Vitamin Kebutuhan vitamin meskipun tidak dicantumkan dalam tabel diatas sangat dipertukan tubuh dan tidak disintesa dalam tubuh kecuali vitamin C. Kebutuhan vitamin dapat dipenuhi apabila ayam diumbar. Kebutuhannya sangat kecit terutama dimanfaatkan sebagai bagian fungsi co-enzyme dan pengaturan metabolisme tubuh. Pada perkembangan industri pakan ternak saat ini, vitamin dapat dengan mudah diperoteh dari kemasan minerals-vitamins mixture.
Bahan pakan Zat gizi yang dibutuhkan ayam berasal dari berbagai bahan pakan. Ayam yang diumbar dapat memperoteh gizi pakan dari biji-biji rumput, padi, jagung, serangga, cacing dan sebagainya untuk memperoleh energi dan protein; dari hijauan seperti rumput, daun-daun lain untuk memperoleh vitamin; dari tanah untuk memperoleh berbagai zat gizi mineral. Namun dalam sistem pemeliharaan ayam secara intensif tentu saja bahan-bahan pakan harus disediakan manusia, kemudian disusun sedemikian rupa menghasilkan suatu ramuan ransum yang sesuai dengan kebutuhan ayam. Berbagai bahan pakan yang dipergunakan untuk menyusun ransum ayam tokal diketompokkan dalam dua kelompok, yaitu kelompok bahan pakan konvensional (bahan pakan yang umum dipakai untuk menyusun ransum lengkap) dan bahan pakan inkonvensional (bahan pakan yang jarang dipakai dalam menyusun ransum), namun mempunyai potensi sebagai bahan pakan.
 Bahan pakan inkonvensionat pada umumnya dipakai dalam ransum datam jumlah sedikit, disamping ketersediaannyapun rendah. Beberapa bahan pakan inkonvensional pada akhirnya bisa masuk datam kelompok bahan pakan konvensional, pada saat bahan-bahan tersebut tersedia dalam jumlah banyak dan bisa dipakai dalam susunan ransum dalam jumlah banyak (lebih besar dari 5 persen). Selanjutnya dalam mempersiapkan ransum komplit untuk ayam yang dipelihara, beberapa hat harus diperhatikan: 1) kualitas, sangat ditentukan oleh umur pada saat panen, lama disimpan, proses pengumputan, dan proses penggilingan; 2) kuantitas yang tersedia terus menerus. Karena ketersediaan yang tersendat-sendat dapat menyebabkan naik turunnya kualitas, sehingga berdampak pada penurunan produksi ayam; 3) harga, secara langsung mempengaruhi pengambitan keputusan pemakaian; dan 4) zat anti nutrisi, seperti senyawa yang mengganggu proses metabolisme pencernaan dan penyerapan zat gizi, yang pada gitirannya menurunkan laju pertumbuhan dan produksi telur. Namun ketersediaan bahan pakan inkonvensional seperti tepung daun tidak sepanjang waktu dan kadang-kadang kualitasnya pun bervariasi.
 Hal ini kemungkinan besar disebabkan adanya kontaminasi dari berbagai daun. Oleh karena itu pemakaian bahan pakan inkonvensionat biasanya dalam jumlah sedikit, bahkan sering berganti-ganti karena tidak tersedianya di pasar. Biasanya para peternak memakai pakan komplit komersial seperti ransum broiler atau ransum layer, yang dioplos (dicampur) dengan dedak padi dan jagung yang tersedia secara lokal.
Dalam upaya penggunaan bahan-bahan pakan di atas, seseorang harus menguasai pengetahuan mengenai nutrisi ayam dan teknik perhitungan pencampuran. Akhir-akhir ini teknik pencampuran untuk menyusun suatu ransum komplit yang sesuai dengan kebutuhan dan dengan harga murah, sudah tersedia dalam bentuk perangkat lunak (software) program komputer. Perangkat Lunak program komputer ini tipenya cukup banyak dan bisa diperoleh dengan harga bervariasi dari yang murah dengan program paling sederhana, sampai yang cukup lengkap dengan berpuluh-putuh bahan pakan yang bisa diramu.
Bahan Pakan Energi Metabolis (kkal/kg)
Protein kasar (%)
Metionin (%) Lisin (%) Ca (%) P total (%)
Dedak padihalus' ) 2400 12,0 0,25 0,45 0,20 1,0
Menir') 2660 10,2 0,17 0,30 0,09 0,12
Jagung') 3300 8,50 0,18 0,20 0,02 0,30
Tepung Singkong' ) 3200 2,0 0,01 0,07 0,33 0,40
Tepung Sagu' ) 2900 2,2 - - 0,53 0,09
Bungkilkelapa' ) 1410 18,6 0,30 0,55 0,10 0,60
Tp. Kepala udang' ) 2000 30,01 0,57 1,5 7,86 1,15
Tepungikan' ) 2960 55,0 1,79 5,07 5,3 2,85
Tepung bekicot') 2700 44,0 0,89 7,72 0,69 0,43
Tp. Daun lamtoro') 850 23,4 0,31 1,55 0,60 0,1
Tp. Daun singkong') 1160 21,0 0,36 1,33 0,98 0,52
Bungkil kedetai') 2240 44,0 0,50 2,6 0,32 0,67
Bkl. Inti sawit') 2050 18,7 0,34 0,61 0,21 0,53
Lumpur sawit kering' ) 1345 11,9 0,21 0,23 0,60 0,44
Molases' ) 2648 Minyak sawit' ) 8200 Broiler starter`) 3050 22 0,48 1,15 1,00 0,42
Broiler finisher`) 3200 20 0,38 0,95 0,95 0,40
Layer starter`) 2900 20 0,45 1,00 1,00 0,42
Layer grower`) 2950 17 0,39 0,85 0,90 0,37
Layer developer`) 2850 17 0,35 0,70 2,00 0,43
Layer`) 2800 17 0,37 0,70 3,50 0,40
Konsentrat protein 3200 35 2,50 1,00
Tabel 6.8. Bahan-bahan pakan lokal dan pakan komptit komersiat serta tingkat pemakaiannya dalam ransum (%).
Dalam peramuan ransum seseorang paling tidak harus mengetahui tingkat maksimum porsi (persentase) yang bisa dimasukan dalam suatu formula ransum. Tingkat porsi maksimum suatu bahan ini tentunya ditentukan oleh kualitas nilai gizi, bahkan adanya zat-zat antinutrisi seperti dikemukakan di atas. Pada Tabel 6.8 disajikan pemakaian maksimum beberapa bahan pakan dengan ada tidaknya
zat anti nutrisi, serta saran pengolahan bahan atau tidak diolahnya tertebih dahulu bahan-bahan pakan tersebut sebetum dijadikan bahan pakan penyusun ransum yang diperlukan. Pengolahan bahan pakan yang disarankan mulai dari
Tata(akFana rnemelifraraanAyam Loka( 147
4
Bahan pakan
Maksimum pemakaian dalam ransum (%)
Zat antinutrisi
Saran pengolahan tertebih dulu
Dedak padi '~ 30 - 40 - */- Dedak gandum'' 30 - 40 - `/- Dedakjagung'' 100 */- Jagung" 60 - - Sorgum'' 20 + Singkong" 20 + `/- Ongok'' 20 + `/- Sagu'' 20 - - Ampas tahu'' 15-20 + */ Bungkil inti sawit" 10 + `/ Lumpur sawit fermentasi" 15 - 20 + * Kulit buah kopi" 10 + `/ Kulit biji coktat" 5 + */ Tepung kepaLa udang'' 20 + `/ Tepung butu ayam'' 5 + `/ Tepung bekicot'' 30 + * Tepung kulit pisang" 5-10 - */ Tepung daun'' 10 Limbah restoran'' 50 - */ Limbah pabrik kecap" 10 +/- * Limbah pabrik roti'' 20 - 30 - - Limbah pabrik supermie'' 20 - 30 - - Bungkit ketapa 15 + - Tepung ikan 100 - - Tepung kapur 5 - Bungkil kedelai 100 - - Broiler starter 100 - - Broiler finisher 100 - - Layer starter 100 - - Layer grower 100 - - Layer developer 100 - - Layer 100 - - Konsentrat 100 - -
yang sederhana seperti pengeringan, perebusan, fermentasi sampai ekstraksi
dengan larutan tertentu. Dalam penyusunan ransum tingkat harga pun harus
menjadi perhitungan, karena akan menentukan berapa nilai harga ransum komplit
yang disusun.
Ransum jadi pada umumnya diberikan pada ayam dalam bentuk tepung
(mash), crumble atau pelet. Peternak kadang-kadang memberikan pakan datam
bentuk pasta selain dalam bentuk kering, namun pemberian pakan dalam bentuk
basah harus habis dalam sekali makan, karena adanya sisa pakan basah dalam
tempat pakan akan terjadi pembusukan yang dapat menyebabkan ayam sakit
apabila sempat dikonsumsi. Dalam tatalaksana pemberian pakan, berapa jumtah
pakan yang harus disiapkan pertu diantisipasi. Pada Tabel 6.9. di bawah ini
disajikan perkiraan konsumsi ransum ayam lokal pada kondisi tropis dengan
rentang kandungan gizi.
Tabel 6.9. Konsumsi ayam lokal pada ransum dengan rentang kandungan protein dan
energi
Sumber: Zainuddin dkk. (2000)
Untuk mengantisipasi berapa banyak ransum dikonsumsi secara kumulatif
oleh seekor ayam dari umur sehari sampai:
Untuk rumpun ayam lokat yang berukuran besar, seperti ayam Pelung, konsumsi
diperkirakan akan lebih tinggi 1 - 2 kali konsumsi ayam lokal lain.

        III. INSEMINASI BUATAN (IB)
Dalam tatalaksana pemeliharaan ayam lokal yang intensif, terkadang
untuk memelihara sejumlah ayam jago, dapat menambah input pakan dan ruang
kandang. Oleh karena itu dalam beberapa hat yang dianggap cukup praktis,
inseminasi buatan juga dapat diaplikasikan untuk ayam lokal.
Teknik IB didefinisikan sebagai salah satu cara pembuahan atau fertilisasi
ayam yang dilakukan dengan bantuan tangan manusia. Semen atau mani yang
ditampung dari ayam jago kemudian dimasukan ke dalam saluran reproduksi
(vagina) ayam betina produktif. Sebelum semen disemprotkan ke dalam vagina
betina, semen dapat diencerkan sampai beberapa kali, sehingga jumlah betina
yang bisa dibuahi bisa lebih banyak dibandingkan apabila dilakukan perkawinan alam
148 7(janefgragaman Sum 6er'Daya JfayatiAyam LokZg(Indonesia: 9danfaat Ian Toteusi
Umur ayam (minggu)
Kandungan nutrisi Konsumsi ransum
Protein
(%)
Energi
(kkal/kg)
Harian (g/ekor/hari)
0-8 minggu 18- 19 2900 -3000 5 - 10
8-12 minggu 16- 17 2900- 3000 20 - 30
12-18 minggu 12- 14 2800- 2900 40 - 60
di atas 18 minggu 15- 16 2750 -2850 80- 100
a) 8 minggu = 0,280 - 0,560 kg
b) 12 minggu = 1,680 - 2,520 kg
c) 18 minggu = 5,040 - 7,560 kg
 Beberapa keuntungan dalam aplikasi IB menurut Martin (2004) diantaranya adalah: 1) Peningkatan rasio perkawinan: Dalam suatu kelompok ayam dewasa biasanya terdapat satu jantan untuk 10 betina, dengan IB rasio di atas dapat ditingkatkan hingga empat kali, 2) Pemanfaatan ayam jago tua unggul. Biasanya ayam jago tua sudah lemah dalam bergerak, namun kualitas semen masih baik, sehingga dengan IB ayam jago tua unggul ini masih bisa dipakai untuk membuahi betina, 3) Pemanfaatan jago unggul yang cedera. Sama halnya dengan jago tua yang sudah lemah, ayam jago cederapun dapat dimanfaatkan sebagai pemacak metalui IB, 4) Pemanfaatan ayam betina yang ditempatkan dalam kandang batere. Ayam betina dalam kandang batere dapat di IB, sehingga menghasilkan telur fertil, bahkan dengan mudah dapat diidentifikasi asat induk dan jago yang membuahi apabila ditakukan suatu program pemutiabiakan, 5) Pemanfaatan dalam perkawinan silang.
Dalam satu ketompok, ayam betina hanya memilih ayam jago, untuk mengawininya yang memperlihatkan karakter kebugaran yang tinggi, seperti tampilan jago dengan frekuensi kepakan sayap yang tinggi (Leonard dan Zanette, 1998), sehingga apabila kita tidak dapat menyediakan ayam jago yang mempunyai karakter seperti di atas, padahat ayam jago tersebut memitiki potensi genetik untuk suatu sifat produksi yang tinggi, maka teknik IB dapat mengatasi persoatan ini, terutama apabila program pemutiabiakan dilakukan untuk membentuk hibrida, yang ada kemungkinan ayam betina dari satu jenis betum tentu menyukai ayam jago jenis lain yang kurang gagah, ukuran tubuhnya terlalu kecil atau terlalu besar dari ayam betinanya.
Faktor yang menyebabkan teknik IB tidak memberikan hasit fertilitas tinggi, yaitu pelaksanaan oleh operator yang kurang higienis, sehingga terjadi kontaminasi semen oleh kotoran pada saat koleksi dari ayam jago. Sebelum metaksanakan teknik IB seorang operator tertebih dahutu harus mengetahui kualitas semen ayam jago dan keturunan yang baik. Pada Tabel 6.10 disajikan kualitas semen beberapa kelompok ayam lokal, yang bisa dijadikan pedoman datam melaksanakan teknik IB terutama dalam menghitung berapa banyak semen akan diencerkan untuk menghasilkan sejumlah spermatozoa yang akan dipakai. Rataan konsentrasi sperma ketiga jenis ayam lokat relatif sama (sekitar 2,26 milyar sperma/ml). Gerakan massa sperma merupakan cerminan dari gerakan individu sperma. Semakin aktif dan banyak sperma yang bergerak ke depan, maka gerakan massa pun semakin bagus (semakin tebal dan pergerakannya semakin cepat). Gerakan massa yang diperoleh dari penelitian ini berkisar antara (3+) sampai (4+) dan persentase sperma hidup rata-rata 88%. Berbeda dengan ternak sapi, IB hanya dapat dilakukan 1 - 3 kali sampai terjadi fertilisasi, kemudian IB tidak dilakukan lagi sampai anak sapi lahir. Teknik IB pada ayam dapat dilakukan berkali-kali untuk menghasitkan sebanyak- banyaknya telur fertil untuk ditetaskan. Lake dan Stewart (1978) metaporkan bahwa untuk satu kali IB (dengan kualitas semen yang baik dan berisi 100 juta spermatozoa), induk ayam akan terus menerus menghasilkan telur fertil selama rata-rata 12 hari periode fertil. Keadaan seperti ini terjadi karena dalam organ reproduksi ayam betina yang terdiri dari sebelah luar mulai dari kloaka, vagina, uterus, magnum, infundibulum dan ovarium, terdapat lipatan-lipatan tabung (tubule) tempat tertahannya 1-2 juta spermatozoa.
Sumber: Iskandar dkk. (2005a); 1) Iskandar dkk. (2005b)
Ayam Parameter Volume (mi/ejakulat)
Gerakan massa (+)
Hidup
(%)
Konsen- Trasi (X109/ml)
Warna & Kental
Abnormal Normal
(%) Kepala Rusak (%)
Kepala Bengkak (%)
Ekor Patah (%)
Tanpa Ekor (%)
Pelung Rataan 0,30 3,50 87,75 2,38 Putih Kental 4,00 7,50 5,17 2,50 83,00
± Std.deviasi 0,11 0,53 3,37 0,36 1,73 5,09 2,32 1,52 5,76
Sentul Rataan 0,28 3,13 88,00 2,15 Putih Kental 3,80 7,83 5,00 1,60 83,50
± Std.deviasi 0,08 0,35 3,46 0,54 4,21 4,26 5,66 0,55 5,17
Kedu Rataan 0,48 3,25 86,88 2,24 Putih Kental 3,00 ' 7,50 4,40 6,00 80,67
± Std.deviasi 0,12 0,46 5,64 0,82 2,00 4,09 3,29 8,12 14,42
Arab's Rataan 0,30 3,00 84,00 2,20 Putih Kental 85,25
± Std.deviasi 0,07 4,48 0,37 7,39
spermatozoa secara pasif terdorong naik ke saturan infundibutum, di tempat set
telur dibuahi. Faktor keberhasilan fertilisasi adalah jumlah spermatozoa yang
terkumpul disekeliling set telur selama 15 - 20 menit setelah ovulasi. Setiap
telur untuk fertilisasi yang baik membutuhkan sekitar 500 spermatozoa (Wishart,
1996).
Frekuensi terbaik dalam melaksanakan IB adalah interval 5 hari dengan menghasilkan fertilitas 73,4% dibandingkan apabila dilakukan dengan interval 10 hari yang hanya menghasilkan fertilitas 71,83% dan interval 15 hari menghasilkan 57,43% (Kismiati, 1999). Untuk memudahkan, pelaksanaan 1B dilakukan dua kali dalam satu minggu. Spermatozoa yang setiap kali digunakan berjumlah sekitar 100 juta dengan volume semen 0,1 - 0,2 ml setiap kali IB.
Oleh karena itu semen segar dapat diencerkan maksimum 10 kali dengan larutan
NaCI fisiologis atau larutan Ringer's. Adapun alat untuk IB berupa syringe 1 ml dengan tabung reaksi dan tabung getas kecil, beberapa tahap yang harus dilakukan dalam rangka melaksanakan IB adalah pengandangan ayam jago, koleksi semen dan petaksanaan IB pada ayam betina. Ayam jago sumber semen, sebaiknya dikurung datam kandang berukuran cukup besar untuk dapat mengepakan sayap dan berkokok. Ukuran kandang
dengan lebar 40 cm, tinggi 50 cm dan panjang 60 cm untuk ayam jago ukuran ayam lokal, sementara untuk ayam Pelung ukuran harus lebih besar (agi. Kandang biasanya ditempatkan disekitar kandang betina, agar ayam jago tetap terangsang.
Koleksi semen dapat dilakukan dengan melalui tahapan latihan dua sampai tiga kali pemerahan sebelum dilakukan penampungan semen.Dua orang operator diperlukan untuk menampung semen. Satu orang memegang ayam pada kedua kakinya secara hati-hati dengan dada ayam disimpan di atas kandang atau meja. Sementara satu orang tagi dengan tabung reaksi siap di tangan kanan (bagi non kidal) dan tangan kid mengetus punggung ayam perlahan agak sedikit ditekan halus menelusur ekor dan berakhir dengan ibu jari dan jari tengah siap memijit kloaka. Kemudian berbarengan dengan itu tangan kanan diurutkan halus ke atas ke arah kloaka dan langsung menampung cairan semen yang ketuar pada ujung k(oaka yang terpijit oleh ibu jari dan jari tengah. Semen yang terkumpul dalam tabung reaksi, kemudian dibubuhkan larutan pengencer secukupnya. Tabung ditutup dengan karet kemudian diguncang pelahan agar terjadi petarutan semen.
            Sebelum melkukan inseminasi pada ayam betina, syringe dan tabung gelas inseminasi yang berisi kurang lebih 0,1 - 0,2 ml semen encer dipegang dengan tangan kanan satah seorang operator (Gambar 6.3). Ayam betina oleh operator yang lain sudah disiapkan dengan menyimpan dada ayam pada sisi kandang, tangan kanan memegang kedua kaki dan ibu jari tangan kiri siap menekan kloaka sebelah kiri, sehingga terlihat lubang vagina yang letaknya kuranglebih pada posisi jam 11 pada penampang lingkaran kloaka, seperti terlihat pada Operator yang memegang syringe segera memasukan tabung semen ke datam vagina sambil menyemprotkan semen. Segera syringe dicabut dari vagina dan segera ayam betina dimasukan kembali ke dalam kandang. Pelaksanaan IB sebaiknya antara jam 14 -16, karena pada saat itu telur hari sebelumnya sudah dikeluarkan oleh sebagian besar ayam, disamping itu cahaya ultra violet yang dapat membunuh spermatozoa sudah berkurang.


      IV. PENGARUH SUHU LINGKUNGAN TINGGI TERHADAP KONDISI
             FISIOLOGIS DAN PRODUKTIVITAS AYAM BURAS

Produktivitas ayam buras yang optimum dapat dicapai pada kondisi thermoneutral zone, yaitu suhu lingkungan yang nyaman. Suhu lingkungan yang nyaman bagi ayam buras belum diketahui, namun diperkirakan berada pada kisaran suhu 18 hingga 25 °C. Ayam buras pada suhu lingkungan yang tinggi (25-31 °C) menunjukkan penurunan produktivitas, yaitu produksi dan berat telur yang rendah, serta pertumbuhan yang lambat . Penurunan produksi telur pada suhu lingkungan tinggi dapat mencapai 25% bila dibandingkan dengan yang dipelihara pada suhu nyaman . Berat badan ayam buras umur 8 minggu juga berbeda, yaitu 257 g/ekor pada suhu tinggi, sedangkan pada lingkungan nyaman dapat mencapai berat 427 g/ekor. Penurunan produktivitas tersebut terutama disebabkan oleh penurunan jumlah konsumsi pakan, maupun perubahan kondisi fisiologis ayam.
Upaya meningkatkan produktivitas ayam buras di daerah suhu lingkungan tinggi antara lain melalui seleksi dan perkawinan silang, manipulasi lingkungan mikro, perbaikan tatalaksana pemeliharaan dan manipulasi pakan. Manipulasi kualitas pakan adalah metode yang paling murah, mudah dilakukan dan umumnya bertujuan meningkatkan jumlah konsumsi zat gizi . Metode ini berupa penambahan vitamin C, mineral phosphor atau pemberian sodium bikarbonat dalam ransum . Disarankan jumlah penambahan vitamin C sebanyak 200-600 mg/kg ransum pada fase produksi telur dan sebanyak 100-200 mg/kg ransum pada fase pertumbuhan.
Kata kunci: Suhu lingkungan tinggi, fisiologis, produktivitas, ayam buras
Dalam kisaran suhu lingkungan optimum, ayam dapat menggunakan pakan lebih efisien, karena ayam tidak mengeluarkan energi untuk mengatasi suhu lingkungan yang tidak normal. Pada suhu lingkunganyang lebih - tinggi, ayam berusaha menjaga suhu tubuhnya dengan cara menyeimbangkan produksi panas dengan hilangnya panas, menggunakan bantuanalat-alat fisik dan mengubah-ubah sifat insulatif bulu .Suhu lingkungan tinggi merupakan salah satu factor penghambat produksi ayam, karena secara langsung hal GUNAWAN dan D.T.H. SIHOMBING : Pengaruh Suhu Lingkungan Tinggi Terhadap Kondisi Fisiologis dan Produktivitas Ayam Buras ini mengakibatkan turunnya konsumsi pakan sehingga terjadi defisiensi zat-zat makanan (DAGHIR, 1995).Beberapa daerah di pantai utara Pulau Jawamemiliki suhu lingkungan di luar kondisi ideal untuk ayam, yaitu memiliki suhu lingkungan antara 27 hingga35°C, namun perkembangan ayam buras cukup baik (MURYANTO et al., 1994; YUWON0 et al., 1995).Dalam makalah ini akan diuraikan mengenai fisiologis dan produktivitas ayam buras pada suhu lingkungan tinggi, serta beberapa upaya untuk memperbaiki produktivitasnya .

        V. UPAYA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS

Ada empat upaya yang dapat dilakukan peternak untuk meningkatkan produktivitas ayam di daerah bersuhu lingkungan tinggi (panas), yaitu: seleksi dan perkawinan silang, modifikasi atau manipulasi iklimmikro, penyesuaian tatalaksana pemeliharaan danmanipulasi zat gizi pakan.Seleksi dan perkawinan silangBeberapa peneliti telah melaporkan adanyaperbedaan antara strain dan bangsa ayam dalam hal ketahanan terhadap lingkungan panas. Menurut YOUSEF (1985) ayam yang berproduksi telur tinggipada suhu panas, biasanya mempunyai bobot badan yang lebih ringan . Oleh sebab itu, sebaiknya untuk daerah panas dipelihara ayam petelur tipe ringan .
Pengamatan selama ini menunjukkan bahwa ayamketurunan Kedu dapat berkembang baik di beberapadaerah bersuhu lingkungan tinggi, misalnya diJombang, Blitar dan Tulung Agung; sedangkan ayamketurunan Arab dapat berkembang baik di daerah Batu dan Malang. Oleh karena itu, penerapan seleksi pada bobot badan dan persilangan dengan ayam tipe ringan merupakan salah satu upaya meningkatkan produktivitas ayam pada suhu lingkungan tinggi.
Modifikasi lingkungan mikro Prinsip metode modifikasi lingkungan mikro adalah menciptakan keadaan lingkungan di dalam kandang sama dengan keadaan yang ideal untuk produksi, tanpa tergantung pada keadaan lingkunganluar. Pada daerah panas diperlukan alat pendingin seperti air condition, evaporative cooling atau kipas angin. Menurut HUFFMAN (2003) peningkatan ventilasi udarajuga diperlukan bila suhu lingkungan tinggi .Menurut TOGATOROP (1979) ada beberapa cara yang dapat ditempuh untuk modifikasi iklim mikro, yaitu: (1) mengatur kontruksi kandang, tinggi kandang tidak kurang dari 3 m dan lebar kandang tidak kurang dari 4 m, menggunakan atap yang bersifat insulation, (2) menanam pohon-pohon peneduh di sekeliling kandang. Disamping itu, modifikasi iklim mikro juga dapat dilakukan dengan cara mengurangi kelembaban lingkungan kandang.
Penyesuaian tatalaksana pemeliharaan Penggunaan alas dan tingkat kepadatan kandang perlu disesuaikan dengan pemeliharaan ayam. SOEHARSONO (1976) menyatakan bahwa untuk ayam pedaging di daerah panas (dataran rendah), penggunaan
alas kawat lebih baik dari alas sekam. Pada alas kawat maka pertukaran panas antara tubuh ayam dengan lingkungannya akan lebih banyak sehingga cekaman panas dapat berkurang. Disamping itu, kepadatan kandang yang lebih rendah dibutuhkan di daerah panas (CRESSWELL dan HARDJOSWORO, 1979). Pemberian pakan pada siang hari diatur lebih sedikit dibandingkan pada malam hari dan pemberian cahaya tambahan pada
malam hari akan memberi peluang bagi ayam untuk meningkatkan konsumsi pakan .
Manipulasi gizi pakan Berkurangnya konsumsi pakan pada suhu lingkungan panas berakibat pada berkurangnya zat gizi yang tersedia untuk pembentukan daging dan telur di dalam tubuh. Dengan merubah komposisi gizi dan tingkat kepadatan gizi diharapkan dapat meningkatkan jumlah zat gizi yang dikonsumsi oleh ayam pada suhu lingkungan panas.
Penggunaan lemak atau minyak sebagai sumber energi pada pakan ayam di daerah panas sering dianjurkan karena heat increment dari lemak atau minyak lebih rendah dari karbohidrat dan protein (SINURAT, 1988). Efek cekaman panas yang diakibatkan oleh suhu lingkungan tinggi dapat diatasi dengan memberikan 1 .000 ppm vitamin C pada ayam (PARDUE dan THAXON, 1986). Konsentrasi asam ascorbic dalam
pakan dapat mengurangi kematian ayam pada suhu lingkungan tinggi (CHENG et al., 1990). Bagi ayam petelur, suplementasi asam ascorbic sebanyak 200-600 mg/kg dalam pakan dapat meningkatkan produksi telur, efisiensi penggunaan pakan dan mengurangi insiden telur retak . Pada ayam pedaging di daerah tropic diperlukan suplementasi 100-200 mg ascorbic/kg untuk memperbaiki pertumbuhan ayam (CHENG et al., 1990).
Hal yang juga biasa dilakukan adalah meningkatkan konsentrasi mineral pakan, karena adanya pengurangan konsumsi pakan yang terjadi pada suhu lingkungan panas. CHARLES (1974) mengamati bahwa kebutuhan phosfor pada ayam petelur meningkat selama ayam berada pada suhu lingkungan panas. Suplementasi sodium bicarbonat pada suhu lingkungan 30°C lebih baik responnya dibandingkan dengan suplementasi sepuluh jenis mineral lainnya . Suplementasi sodium bicarbonat pada pakan atau air minum dapat meningkatkan keseimbangan elektrolit pakan dan memperbaiki penampilan ayam pada suhu lingkungan tinggi .





























BAB III
KESIMPULAN


Suhu lingkungan yang tinggi di daerah tropis dapat mempengaruhi kondisi fisiologis dan menurunkan produktivitas ayam buras, berupa penurunan produksi dan berat telur, serta bobot badan.Penurunan produksi telur ayam buras pada suhu lingkungan tinggi dapat mencapai 25% dan berat badan ayam buras umur 8 minggu hanya mencapai 257g/ekor, sedangkan pada kondisi nyaman dapat mencapai berat 427 g/ekor.Penurunan produktivitas ayam buras terutama disebabkan oleh penurtman konsumsi zat gizi maupun perubahan kondisi fisiologis ayam yang timbul karena
pengaruh suhu lingkungan tinggi .
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi penurunan produktivitas adalah penyesuaian tatalaksana pemeliharaan dan manipulasi zat gizi pakan, antara lain melalui penambahan vitamin C, mineral phosphor atau sodiumbikarbonat dalam ransum. Jumlah penambahan vitaminC sebanyak 200-600 mg/kg ransum dapat memperbaikiproduksi telurdan pcrrambahan sebanyak 100-200mg/kg ransum dibutuhkan untuk memperbaikipertumbuhan ayam buras.













DAFTAR PUSTAKA


CRESWELL, D. DAN P.S . HARDJOSWORO . 1979 . Poultr y house design and stocking density for the Tropics . LaporanSeminar Ilmu dan Industri Perunggasan 11 . Puslibang Peternakan, Bogor.

DIRDJOPRATONO, W., MURYANTO, SUBIHARTA dan D.M. YuwoNo. 1995. Studi sosial ekonomi dan adopsi penerapan teknologi pada pemeliharaan ayam buras di pedesaan . Kasus pada KTT Ayam Buras "Gemah Ripah" desa Soropadan, Temanggung . Pros . Pertemuan Ilmiah Komunikasi dan Penyaluran Hasil Penelitian. Sub Balinak Klepu, Ungaran .

FARELL, D.J . 1979. Pengaruh dari suhu terhadap kemampuan biologis dari unggas. Laporan Seminar Ilmu dan Industri Perunggasan 11 . Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor.

SINURAT, A.P . 1988 . Produktivitas unggas pada suhu lingkungan yang panas. Pros . Simposium I Meteorologi Pertanian. Perhimpi, Bogor.

TOGATOROP, M.H . 1979. Pengaruh suhu udara terhadap produksi ayam. Lembaran LPP. No. 3-4. LPP Bogor. him. 1-10 .

WIHANDOYO, H. MULYADI dan T. YUWANTO. 1981 . Studi Tentang Produktivitas Ayam yang Dipelihara Rakyat di Pedesaan Secara Tradisional. Laporan Penelitian UGM, Yogyakarta.


Tidak ada komentar: