Jumat, 30 Desember 2011

makalah management agribisnis ( komoditi pisang )


DAFTAR ISI

                                                                                                                                                                                                                                                  Halaman
DAFTAR ISI ...................................................................................................       1
BAB I.  PENDAHULUAN
  1.1 Latar Belakang ......................................................................................       2
  1.2 Tujuan Penulisan ...................................................................................       2
  1.3 Manfaat Penulisan ................................................................................       2
BAB II. ISI
  2.I Pentingnya Pengamatan Mulai Dari Produksi dan Konsumsi ...............       3
  2.2 Prospek Buah Pisang Dari Sisi Permintaan ...........................................       4
  2.3 Permasalahan Buah Pisang Dari Segi Agribisnis ..................................       5
  2.4 Subsistem Agribisnis Buah Pisang ........................................................       6
  2.5 Subsistem Yang Paling Berperan ..........................................................       11
  2.6 Pengembangan Agribisnis .....................................................................       11
  2.7 Pengembangan Komoditi Agribisnis Berdasarkan Bauran Pemasaran..       15
  2.8 Potensi Ekspor Komoditi Pisang dan Saingannya Dipasar Ekspor ......       17
  2.9 Atribut Kualitas Komoditi Pisang ........................................................       18
BAB III. KESIMPULAN DAN SARAN
  3.1 Kesimpulan ...........................................................................................       19
  3.2 Saran .....................................................................................................       19
DAFTAR PUSTAKA





BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
            Pisang mempunyai nama latin “Musa Paradisiaca“. Nama musa diambil dari nama seorang dokter kaisar Romawi Octavianus Augustus yang bernama “Antonius Musa”. Sesuai dengan kemajuan tekhnologi, budidaya pisang pun mengalami kemajuan pesat. Budidaya buah pisang saat ini tidak hanya dilakukan sambil lalu, tetapi telah dilakukan secara intensif, terutama pisang untuk keperluan eksport.
Pada masyarakat Asia Tenggara, diduga buah pisang telah lama dimanfaatkan. Masyarakat di daerah itu, saat berkebudayaan pengumpul (food gathering), telah menggunakan tunas dan pelepah buah pisang sebagai bagian dari sayur. Bagian-bagian lain dari tanaman pisang pun telah dimanfaatkan seperti saat ini. Pada saat kebudayaan pertanian menetap dimulai, buah pisang termasuk tanaman pertama yang dipelihara.
  Maka dari itu, ahli sejarah dan botani mengambil kesimpulan bahwa asal mula tanaman pisang adalah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.India merupakan negara yang memiliki tulisan pertama tentang budidaya pisang,disebutkan bahwa pemeliharaan itu dilakukan di Epics: Pali Boeddhist,500-600 SM,yang menyebutkan bahwa “buah sebesar taring”itu memeng disukai oleh binatang-binatang bertaring dan bertanduk.Di China,awal kebudayaan pisang dimulai dan terpusat di Yangtze dan sungai kuning. Tanaman pisang juga berkembang Amerika Selatan dan Tengah berasal dari Afrika Barat sekitar tahun 1500, yang akhirnya menyebar ke seluruh daratan Amerika.
.Buah pisang juga banyak memberikan manfaat untuk berbagai keperluan hidup manusia. Selain buahnya, bagian tanaman lainpun bisa dimanfaatkan, mulai dari bonggol sampai daun. Buah pisang selain dalam bentuk segar, dapat juga diolah menjadi makanan olahan, seperti: sale pisang, keripik pisang, dan lain-lain.

1.2. Tujuan
            Tujuan penyusunan makalah ini agar pembaca mengetahui bahwa tanaman pisang merupakan tanaman serba guna, mulai dari bagian bawah (bonggol) sampai bagian atas (bunga pisang) dapat dimanfaatkan serta mengetahui nilai ekonomis yang dihasilkan dari buah pisang. Selain itu, pisang yang berkualitas juga mempunyai potensi dan prospek usaha yang cukup besar dalam peluang dan konsumsinya agar dapat bersaing dengan buah-buahan lainnya sehingga dapat meningkatkan nilai ekspor buah pisang dipasar global.
Dan tujuan lain dari makalah ini adalah untuk mengajak dan menghimbau masyarakat untuk memulai mananam pisang agar bisa membantu perekonomian keluarga, untuk mengajarkan tahapan  apa saja yang harus dilakukan masyarakat jika ingin menanam pisang.

1.2.2  Manfaat
Adapun Manfaat makalah ini adalah :
1.  Sebagai salah satu syarat untuk mengikuti dan menyelesaikan Mata kuliah Manajemen Agribisnis (MAG173)
2.  Sebagai bahan masukan berupa informasi yang jelas bagi pihak – pihak yang berkepentingan.


BAB II
ISI

2.1. Pentingnya Pengamatan Mulai Dari Produksi dan Konsumsi
2.1.1. Pentingnya Pengamatan Produksi.
Kegiatan produksi perlu diamati guna untuk mengetahui apakah produk yang dihasilkan memenuhi standar yang diinginkan oleh perusahaan sebagaimana yang diminati konsumen. Pengamatan produksi dilakukan pada seluruh aspek kegiatan yang berkaitan dengan produksi, yang meliputi :

a.      Kegiatan proses produksi atau operasi.
            Pengamatan kegiatan-kegiatan produksi komoditi pisang mulai dari pengadaan bibit, teknologi budidaya, teknologi pascapanen dan pengolahan hasil, sampai pemasaran produk-produknya.  Dengan demikian untuk waktu-waktu mendatang upaya pengem­bangan agribisnis ini masih tetap merupakan salah satu kunci utama dalam pengem bangan komoditi pisang . 
b.      Kualitas produk yang dihasilkan.
      Apakah telah sesuai dengan standar mutu dunia yaitu merupakan faktor yang menentukan dalam tercapainya jaminan mutu untuk setiap produk, bisa dilihat dari keamanan, keselamatan, dan kesehatan bagi konsumen.Standar buah pisang mengacu pada SNI-01-4229-1996.Untuk mengetahui dan mencapai syarat mutu pisang harus melakukan pengujian yang meliputi ; Penentuan keseragaman kultivar,Penetuan keseragaman ukuran buah,Penentuan tingkat ketuaan,Penentuan tingkat kerusakan fisik/mekanis,dan Penentuan kadar kotoran.
c.       Biaya produksi yang dikeluarkan.
Pengamatan ini mencakup antara lain : harga pisang per sisir, penjualan,laba operasional,rasio untung/rugi,dan biaya operasional lainnya.
d.      Tenaga kerja.
Tenaga kerja yang melakukan kegiatan produksi haruslah diberikan pengetahuan yang luas tentang wawasan pembudidayaan yang semakin canggih, agar proses produksi dapat berjalan dengan baik yang akan berimbas pada peningkatan hasil produksi.Maka dari itu pelaksanaan pelatihan-pelatihan kepada para petani lebih ditingkatkan lagi. Petani dan teknisi yang berpartisipasi dalam pelatihan memiliki peluang untuk praktek teknologi baru dengan pengarahan dari konsultan. Teknologi yang diperagakan sebaiknya mencakup hal yang mudah diterapkan dalam budaya setempat, dan sebagian besar tidak memerlukan investasi tambahan dan menggunakan material yang ada. Hasil analisis tentang hubungan antara faktor produksi lahan, tenaga kerja, dan pupuk organik usahatani pisang berpengaruh positip terhadap hasil produksi.
e.       Perkiraan produksi.
Belum ada standar produksi buah pisang di Indonesia, disentra buah pisang dunia produksi 28 ton/ha/tahun hanya ekonomis untuk perkebunan skala rumah tangga. Untuk perkebunan kecil (10-30 ha) dan perkebunan besar (>30 ha), produksi yang ekonomis harus mencapai sedikitnya 46 ton/ha/tahun.

2.1.2. Pentingnya Pengamatan Konsumsi.
            Pengamatan konsumsi dilakukan guna mengetahui apakah buah pisang yang diolah dan diproses menjadi berbagai macam produk yang dihasilkan seperti makanan memiliki nilai ekonomis dan kualitas produknya memiliki standar yang dapat diterima dan disukai oleh konsumen untuk dikonsumsi menjadi makanan yang enak disantap.
Tetapi di Indonesia, hampir semua masyarakat baik dari golongan bawah sampai atas mengkonsumsi buah pisang, karena pisang selain rasanya enak, kandungan gizinya tinggi, mudah didapat, dan harganya relatif murah. Dengan berkembangnya buah pisang di Indonesia, diharapkan akan meningkatkan konsumsi dan eksport buah pisang baik untuk segar maupun olahan, sehingga produksi buah pisang ditargetkan sekitar 11.226.000 ton pada tahun 2025 nanti.
Meningkatnya jumlah penduduk dan tingkat kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi buah-buahan diharapkan dapat meningkatkan konsumsi buah pisang secara nasional, sehingga kebutuhan buah pisang akan terus meningkat. Dengan berkembangnya pisang di Indonesia, diharapkan akan meningkatkan konsumsi dan ekspor buah pisang baik untuk segar maupun olahan.
Apabila kita tinjau tentunya untuk konsumsi buah pisang itu sendiri cukup besar peluang dan daya belinya. Dari total produksi buah pisang dunia, diantara jenis buah pisang yang paling banyak dikonsumsi adalah dari jenis cavendish. Hal ini dilihat dalam konsumsi domestik pasar buah pisang cukup besar didalam negeri. Dimana hasil olahan pisang tersebut dapat dijual ke konsumen baik dipasar tradisional supermarket dan pedagang besar yang membutuhkan buah ini untuk peluang bisnis.

2.2. Prospek Buah Pisang Dari Sisi Permintaan
            Permintaan akan komoditi buah pisang dunia memang sangat besar, terutama jenis pisang cavendish yang meliputi 80% dari permintaan total dunia. Hal ini menunjukkan bahwa pisang memang komoditas perdagangan yang sangat tidak mungkin diabaikan. Relatif besarnya volume produksi nasional dan luas panen dibandingkan dengan komoditas buah lainnya, menjadikan buah pisang merupakan tanaman unggulan di Indonesia.
Pengembangan pisang berskala kebun rakyat dan besar akan membuka peluang agribisnis hulu, seperti industri perbenihan dan industri peralatan mekanisasi pertanian, yang tentunya akan membuka kesempatan berusaha dan kesempatan kerja. Selain sebagai buah yang dimakan segar, pisang juga dapat diolah baik untuk skala rumah tangga seperti keripik, getuk dan sale, maupun industri berskala besar seperti tepung, puree dan jam, yang dapat merangsang tumbuhnya agribisnis hilir. Agribisnis hilir akan berkembang dengan cara memberdayakan industri pengolahan skala keluarga (home industry) dan menengah maupun skala besar (investor dalam dan luar negeri).
Permintaan pisang untuk industri pengolahan skala rumah tangga (10-50 kg/hari), skala UKM kripik (100-120 kg/hari), sale (1,5-2 ton/bln), ledre (70-120 kg/hari), puree (300-500 kg/h) dan tepung (700-1000 kg/minggu). Skala besar, membutuhkan kapasitas + 10-12 ton pisang segar/hari.
Konsumsi pisang per orang telah mengalami peningkatan yang mencolok dibanding apel dan satsuma mandarin (jeruk) atau Citrus reticulate yang telah menurun. Hasil kajian ekonomi di Jepang menunjukan bahwa permintaan apel melemah disebabkan permintaan pisang meningkat dari 4,4 kg pada tahun 1993-1994 menjadi 5,6 kg pada tahun 2003-2004. Peningkatan konsumsi ini diduga karena harga pisang menurun.
            Permintaan terhadap pisang telah meningkat secara signifikan pada beberapa tahun terakhir di daerah perkotaan di negara ini, menjadikan perkebunan pisang intensif menarik bagi petani setempat. Pembeli/distributor utama aktif mencari cara untuk meningkatkan pasokan dari berbagai daerah produksi. Pada khususnya, perusahan ini memiliki kebutuhan untuk menkonsolidasikan pasokan pisang mas dan pisang Barangan, pisang yang  langka dan hanya terdapat di daerah Medan, sebagai bagian dari produk yang ditawarkan ke pasar setempat dan rantai supermarket di seluruh daerah.
Oleh karena itu, kebutuhan terhadap buah-buahan terutama buah pisang segar menjadi kebutuhan primer. Selain itu manfaat dan kandungan gizinya dapat memacu permintaan buah pisang yang terus meningkat. Hal semua diatas dapat memperbesar peluang agribisnis buah pisang sehingga prospek buah pisang untuk pasar dunia dapat terus meningkat.

2.3. Permasalahan Buah Pisang Dari Segi Agribisnis
            Kendala utama yang kini dihadapi dibeberapa sentra produksi buah pisang dalam 10 tahun terakhir ini adalah serangan layu Fusarium dan bakteri yang mengakibatkan kerusakan cukup luas dan sulit ditanggulangi. Kemampuan untuk mengendalikan layu pisang masih terbatas, baik dari segi pengetahuan, keterampilan, maupun kemampuan finansial. Apabila kita asumsikan bahwa tanaman yang terserang tersebut akan rusak dan mengakibatkan gagal panen, mutu serta penampilan luar buah pisang yang kurang menarik, maka secara finansial/perhitungan ekonomi, petani akan menderita kerugian sebesar ± 18 milyar rupiah (estimasi harga pisang Rp. 10.000,- per tandan). Selain itu, pisang yang bermutu rendah akan mengakibatkan kelesuan pada eksport buah pisang yang seharusnya tidak terjadi, apabila segala syarat pembudidayaan buah pisang dilakukan secara intensif dengan tekhnologi yang maju. Hal ini tentu saja akan berpengaruh pada meningkatnya harga jual buah pisang dipasar.
            Adapun kendala-kendala lainnya yang pernah terjadi adalah sbb :
  1. Tingginya penyakit Sigatoka Hitam yang menyebabkan daun yang rendah pada saat panen (kurang dari 6 per pohon) dan mengakibatkan kurangnya potensi produksi sebesar 30% karena berat tandan yang berkurang. Penyakit ini juga mengakibatkan matangnya pisang terlalu dini sehingga buah beresiko saat dikirimkan ke pasar yang jaraknya jauh.
  2. Kepadatan populasi yang rendah dan manajemen populasi pohon yang kurang
  3. Kerusakan buah yang parah karena karat.
  4. Tingkat tunas yang rendah – hanya sedikit anak tunas akar dari pohon induk, dan pemilihan tunas yang kurang baik.
  5. Insiden doble dan triple yang tinggi – pemangkasan tidak diterapkan untuk urutan produksi induk – anak - cucu.
  6. Ukuran tandan yang kecil (jumlah sisir sedikit dengan berat rendah) sebagai akibat rendahnya jumlah pupuk yang digunakan.
  7. Perlindungan buah tidak diterapkan (bakal buah tidak dipindahkan, tandan palsu tidak dipotong, tidak ada pemangkasan sisir, bunga, dan daun dan pembersihan tandan untuk melindungi buah dari kerusakan akibat gesekan dengan daun dan agen mekanik lainnya).
  8. Tidak ada sistem pengendalian umur/mutu untuk panen. Panen menggunakan tanda visual seperti padatnya buah.
  9. Praktek pertanian yang baik dan standar sanitasi dan fito sanitasi kurang memadai.
  10. Beberapa lahan produksi terletak di bukit yang curam.
  11. Kurangnya irigasi dan system drainase.
  12. Akses terbatas terhadap input, materi, alat, peralatan yang diperlukan untuk produksi dan pasca panen. Kurangnya alat lapangan untuk pemangkasan, pengurangan daun, panen, dsb merupakan hal yang kronis dan hambatan utama.
  13. Insiden gesekan dan luka yang tinggi karenya kurangnya penanganan yang berorientasi pada perlindungan buah setelah panen. Tandan dipindahkan dari lapangan dengan tangan dan dikirimkan ke pusat pengumpulan dan distribusi melalui berbagai jenis kendaraan tanpa danya perlindungan.
  14. Kendala dalam penyediaan bibit dengan skala komersial seperti ketersediaan bibit unggul klonal yang seragam dalam jumlah banyak dan dapat tersedia dalam waktu yang relatif singkat.

2.4. Subsistem Agribisnis Buah Pisang
2.4.1. Farming System ( system perkebunan ).
Selama ini buah pisang hanya ditanam di pekarangan sebagai tanaman campuran dengan tanaman pangan atau perkebunan,maupun dengan pola tumpang sari,serta dilahan tegalan.Sentra produksinya tersebar dengan kepemilikan lahan yang kecil.Pertanaman pisang rakyat tersebut tidak pernah tersentuh tekhnologi,dibiarkan tumbuh dan berkembang sesuai alam sekitarnya.Oleh karena itu diperlukan pengetahuan tentang farming system yang baik untuk penanaman buah pisang,sebagaai berikut :

A. Pemilihan bibit/benih .
Kualitas benih berperan besar dalam keberhasilan budidaya pisang. Sifat unggul benih pisang akan terekpresi pada penampilan buahnya.  Keunggulan tersebut menyangkut rasa manis,  produkasi tinggi.  Benih yang baik berasal dari perbanyakan vegetatif  : kultur jaringan, biasanya tumbuh seragam tetapi cukup mahal. Memilih varietas seyogyanya berdasarkan pada varietas yang mempunyai nilai pasar dan berpeluang dimasa depan yang baik. Varietas pisang  yang banyak diminati antara lain adalah Cavendish,ambon kuning dan pisang mas.
           Untuk memperoleh benih yang baik dalam jumlah banyak dapat dilakukan secara mandiri oleh petani atau  memesan benih bersertifikat dan bila perlu mengetahui sejarah benih yang akan dibeli. Hal ini dapat dipenuhi tentunya melalui penangkar yang terpercaya.
1. Bibit anakan .
Tanaman pisang selalu diperbanyak secara vegetatif dengan memakai anakan ( sucker ) yang tumbuh dari bonggolnya .Ada 4 jenis anakan pisang ,yaitu :
  • Bibit tunas anakan yaitu berupa tunas yang belum berdaun sehingga menyerupai rebung.
  • Bibit anakan yaitu tunas yang daunnya telah keluar tetapi masih menggulung.
  • Bibit anakan sedang yaitu dengan tinggi antara 101-150cm.
  • Bibit anakan dewasa yaitu berupa tunas yang berdaun mekar lebih dari 2 helai,tingginya antara 151-175cm.
Diantara bibit anakan,bibit anakan dewasa biasanya paling cepat menghasilkan buah.Bibit anakan tunas jarang jarang dipergunakan sebagai bibit sebab pertumbuhannya lambat serta peka terhadap kekeringan dan ulat penggerek batang pisang.
2. Bibit  bit .
Bibit juga bisa diperoleh dari bonggol tanaman pisang .Belahan bonggol ini disebut bit.Pembibitan ini mempunyai keuntungan-keuntungan sebagai berikut :
  • Dalam waktu singkat bisa didapatkan bibit yang seragam dalam jumlah banyak,sehingga cocok untuk gerakan penghijauan dan perluasan areal baru .
  • Mudah pengiriman dan biayanya lebih murah .
  • Dapat memanfaatkan bonggol sisa tebangan.
  • Umur panennya lebih pendek dibandingkan cara pembibitan lainnya
  • Produksinya lebih tinggi .
3. Melalui technology kultur jaringan
Yaitu merupakan suatu tekhnik perbanyakan klonal dalam kondisi aseptic secara cepat. Bibit pisang hendaklah dipilih dari rumpun yang baik dan sehat ,dapat diperoleh dari membeli/disediakan sendiri dengan sanitasi bibiy yang baik.
B. Pengolahan Media Tanam.
Pemilihan lahan harus memperhatikan aspek iklim ,dimana aspek iklim yang cocok untuk komoditi pisang yaitu iklim basah ( lembab ),dengan curah hujan merata sepanjang tahun.Hal ini dikarenakan pisang merupakan tanaman dataran rendah didaerah tropic.Aspek-aspek lain yang harus diperhatikan yaitu prasarana ekonomi dan letak pasar,keamanan dan social.Kemudian dibuat sengkedan dengan lebar target kemiringan lahan.Tumpang sari dengan tanaman lain dapat dilakukan dengan baik.
C. Tekhnik Penanaman.
Pembuatan lubang tanam dilaksanakan 1-3 bulan sebelumnya.Dengan ukuran lubang disesuaikan dengan tanah berat atau tanah gembur biasanya dengan ukuran 60cmx60cmx60cm,dan jarak tanam sekitar 3,3cm.Penanaman yang baik dilakukan pada awal musim penghujan.Tanaman ysng diberi pupuk kandang/kompos akan sangat berpengaruh terhadap kualitas rasa buah.

2.4.2. Processing.
Pada dasarnya,pengolahan komoditi pisang tidak hanya mengolah daging buahnya saja,tetapi segala unsure yang terdapat pada tanaman pisang dapat diolah dan dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.Seperti :
  • Kulit pisang.
Bisa diolah menjadi selai kulit pisang,anggur kulit pisang.Kulit pisang dari jenis pisang raja dan ambon dapat diolah menjadi bahan baku minuman anggur.Lebih dari itu kulit pisang juga dapat dimanfaatkan untuk pembuatan nata de banana,yaitu produk makanan yang terbentuk dari kumpulan biomassa yang terdiri dari selulosa dan memiliki penampilan seperti agar-agar warna putih seperti nata de coco.
  • Daun Pisang.
Daun yang tua yang sudah robek bisa untuk pakan ternak karena banyak mengandung unsure yang diperlukan oleh tubuh hewan.
  • Jantung Pisang.
Untuk makanan lauk pauk ( dendeng jantung pisang ).
  • Bonggol Pisang (Batang pisang bagian bawah ).
Bisa diolah menjadi keripik bonggol pisang,urap,lalapan,bisa juga dijadikan pupuk dengan cara batang tersebut diiris-iris lalu dibakar jadi abu.Air bonggol pisang kapok dan klutuk dapat dijadikan obat disentri,pendarahan usus,obat kumur,serta untuk menghitamkan rambut.
  • Buah.
Industri pengolahan buah pisang skala besar lebih diarahkan pada industri tepung (1,5-2 ton/mg ),puree (600kg-1,5 ton/hari ) dan jam ( 1-2 ton/hari ). Sebagai contoh,pengubahan bentuk buah pisang menjadi tepung pisang akan mempermudah dan memperluas pemanfaatan pisang sebagai bahan makanan,misalnya untuk kue,roti,bubur,kerupuk,dan lain-lain. Untuk membuat tepung pisang,diperlukan beberapa langkah diantaranya :


-pengupasan
-pengirisan
-pengeringan
-penepungan,dan
-penyimpanan.
 Caranya :
Buah Pisang mentah dikupas kulitnya ,kemudian diiris dengan pisau atau mesin pengiris.Tebal pengirisan kira-kira 1 cm setelah diiris lalu rendam dalam larutan bisulfit,langsung dikeringkan dalam alat pengeringan pada suhu kira-kira 80 derajat celcius.Buah pisang yang telah kering dengan kadar air kira-kira 10%,dibuatkan tepung dengan menggunakan alat penepungan.Tepung pisang agar tahan lama,disimpan dalam tempat yang tertutup rapat seperti tutup plastic.

Bagan pengolahan buah pisang

Organization Chart

2.4.3. Marketing.
Dalam skala industri,aspek pemasaran tidak hanya dijuruskan dalam negeri saja,tetapi sudah mengarah untuk ekspor.Pemasaran buah pisang sebenarnya cukup mudah,karena buah pisang memiliki keistimewaan tertentu.Oleh karena itu,banyak orang mencarinya.Selain itu,harga buah pisang juga tergolong murah sehingga buah pisang dapat dikonsumsi oleh masyarakat berbagai golongan.Kenyataan demikian ini dapat dilihat dari terus meningkatnya permintaan buah pisang dari tahun ke tahun.
Kegiatan pengumpulan dan pengangkutan dari sentra produksi ketempat pemasarannya sebagian besar dilakukan oleh pedagang pengumpul yang sudah mempunyai jaringan pemasarannya. Pedagang pengumpul pada umumnya merangkap sebagai tengkulak. Buah pisang dikumpulkan dari petani dengan cara sistem ijon, yaitu dengan membayar buah pisang yang masih muda dengan harga murah dan memanennya setelah agak tua. Disamping itu, pengumpul juga membeli pisang dari petani yang menjual langsung kepadanya. Setelah buah pisang yang terkumpul mencapai kapasitas 1 truk (4-5 ton), buah pisang diangkut ke tujuan pemasaran.
Untuk pemasaran lokal,petani lebih suka memetik pada stadia matang penuh.Buah yang dipetik pada stadia ini dalam 3-4 hari akan menjadi matang penuh. Pemasaran yang memerlukan waktu, misal keluar daerah, keluar pulau atau untuk ekspor,maka buah dipanen pada tingkat ketuaan ¾ penuh. Hal ini dimaksudkan agar daya simpan pisang menjadi lebih lama.Buah menjadi matang setelah 7-19 hari penyimpanan.
Untuk konsumsi pasar swalayan,dipilih pisang yang tingkat ketuaanya optimum,penampakannya menarik,tanpa cacat,dan dari varietas tertentu.Jenis0jenis pisang yang dipasarkan di pasar swalayan adalah jenis pisang ambon dalam bentuk tangkaian dua-dua yang dikemas dalam kantong plastik berlubang,pisang barangan,pisang raja bulu,dan jenis-jenis lainnya dipasarkan dalam bentuk sisiran.
Selain pemasaran dalam bentuk buah segar,pemasaran dalam bentuk olahan juga mempunyai peluang yang baik.Bentuk olahan yang umum diperdagangkan seperti sale segar,sale goreng,dsb.
Namun dalam memasarkan buah pisang terdapat beberapa kendala yang dihadapi petani,antara lain sebagai berikut :
1.      Pola pemasaran sekarang tidak menghargai produk bermutu dan selalu menerapakan harga borongan.
2.      Penetapan harga cenderung dilakukan oleh pedagang pengumpul.
3.      Sistem pemasaran yang ada saat ini belum berpihak kepada petani.
4.      Fungsi kelompok tani untuk saat ini belum optimal.
5.      Sebagian besar sentra produksi belum memiliki Sub Terminal Agribisnis (STA).
Maka dari itu untuk Pemerintah harus bisa mengatasinya,adapun diantaranya sebagai berikut :
1.      Menciptakan Kelompok Usaha Bersama Agribisnis ( KUBA ) yang dijiwai oleh semangat kemitraan dan koperatif.
2.      Mendorong berkembangnya Koperasi pedesaan dengan kegiatan produktifnya agribisnis komoditi pisang dan mampu bermitra usaha dengan pihak luar.

2.4.4. Research and Development.
Pengembangan yang dilakukan selama ini masih tradisional dan belum menerapkan tekhnologi budidaya yang sesuai dengan standar tekhnik budidaya (SOP). Maka dari itu diperlukan riset dan pengembangan produk yang dilakukan guna melakukan perbaikan atau perubahan pada produk yang dihasilkan dalam proses produksi karena adanya dinamika lingkungan atau perubahan strategi perusahaan dalam menghadapi persaingan pasar. Dalam pengembangan komoditi buah-buahan pisang ini adalah masih lemahnya keterkaitan antara sektor pertanian dan sektor industri, terutama di pedesaan.  Sehingga sebagian terbesar komoditi pisang dipasarkan sebagai produk primer. Untuk lebih memperkuat keter kaitan antar sektor tersebut diperlukan kerjasama inter-sektoral yang lebih aktif dalam mengem­bangkan  komoditi pisang, penyediaan IPTEK budidaya dan agroindustri pisang yang mampu menyediakan alternatif produk sekunder dan tersier dari komoditi pisang di pede­saan, dan kebijakan pemerintah yang lebih terarah. 
            Selain itu, buah pisang memberikan kontribusinya lebih dari 30% terhadap total konsumsi buah-buahan. Untuk menghadapi persaingan dunia usaha, diperlukan melakukan inovasi pengembangan kebun buah rakyat dengan penerapan tekhnologi maju yaitu strategi pengembangan pisang.
Program pengembangan buah-buahan akan diprioritaskan pada daerah yang secara agroklimat cocok dan memiliki potensi sumber daya manusia serta didukung dengan pola pengelolaan tanaman terpadu, artinya sistem usaha agribisnis yang terkait dari tahap perencanaan, persiapan lahan, pola, dan tekhnologi budidaya, prapanen, panen dan pascapanen serta pemberdayaan kelembagaan yang kuat terhadap produk yang dihasilkan agar dapat diterima atau disukai konsumen.
Pengembangan pisang berskala kebun rakyat dan besar akan membuka peluang agribisnis hulu, seperti industri perbenihan dan industri peralatan mekanisasi pertanian, yang tentunya akan membuka kesempatan berusaha dan kesempatan kerja. Selain sebagai buah yang dimakan segar, pisang juga dapat diolah baik untuk skala rumah tangga seperti keripik, getuk dan sale, maupun industri berskala besar seperti tepung, puree dan jam, yang dapat merangsang tumbuhnya agribisnis hilir. Agribisnis hilir akan berkembang dengan cara memberdayakan industri pengolahan skala keluarga (home industry) dan menengah maupun skala besar (investor dalam dan luar negeri).
Upaya pengembangan pisang jenis unggul yang berkuali­tas buah baik terbentur kepada kesulitan penyediaan bibit yang baik pada tingkat petani; sedangkan upaya perluasan jangkauan pemasaran buah terbentur kepada kualitas buah yang sangat beragam, daya tahan buah matang segar yang sangat rendah dan terbatasnya upaya-upaya pengawetan dan pengolahan buah di tingkat petani.Maka dari itu diperlukan beberapa strategi,yaitu :
Strategi yang akan ditempuh dalam pengembangan buah pisang adalah                        pengembangan varietas unggul, penyiapan benih, pewilayahan  komoditas, penerapan  teknologi  maju, pengembangan perlindungan  komoditi pisang, peningkatan mutu, pengembangan kawasan sentra  produksi, pengembangan kelembagaan petani, pengembangan sarana dan prasarana kebun, pengembangan agroindustri pedesaan, menumbuhkembangkan Kegiatan Usaha Bersama (KUB), UPJA teknologi  pengolahan hasil, peningkatan kerjasama dengan peneliti dan perguruan tinggi serta mengadakan pengkajian yang disesuaikan dengan kebutuhan secara local spesifik,  pengembangan pola kemitraan dan kewirausahaan masyarakat pertanian  yang maju dan mandiri, pengkajian dan perkiraan tentang dinamika produksi, produktivitas dan  penuntun pasar regional, optimalisasi sumberdaya aparatur seiring dengan pengembangan komoditas yang mampu mendukung peran usaha tani.
Usaha budidaya pisang kedepan akan dilakukan melalui 3 pola pengembangan yaitu: (a) pola pengembangan kebun besar oleh investor, (b)  pola pengembangan  kebun  buah  rakyat  berskala komersial (5-10 Ha per petani) dan (c) pola pengembangan kebun buah rakyat dengan penerapan tekhnologi maju.
Kebutuhan biaya keseluruhan untuk mendukung pengembangan pisang sampai dengan 2025 adalah Rp 23,2 triliun, dengan rincian untuk tahun         2006-2009 sebesar Rp 1,97 triliun dan tahun 2010-2025 sebesar Rp 21,24 triliun. Sumber pembiayaan yang diharapkan untuk mendukung pengembangan pisang berasal dari pemerintah tahun 2005-2009 sebesar + 15 – 20 %, sedangkan sisanya merupakan partisipasi masyarakat serta swasta. Periode 2010 – 2025 kontribusi pembiayaan dari pemerintah sebesar 7,5 –10 %.
               Dengan demikian untuk waktu-waktu mendatang upaya pengem­bangan agribisnis ini masih tetap merupakan salah satu kunci utama dalam pengembangan komoditi pisang . 

2.4.5. Supporting Lainnya.
Pengembangan buah pisang di Indonesia tidak akan tercapai optimal tanpa adanya investor, baik dalam negeri maupun luar negeri. Oleh karena itu, gambaran tentang investasi dan disertai informasi daerah pengembangan ke depan perlu diberikan dan tentunya haruslah didukung dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan kemudahan dan jaminan keamanan berinvestasi serta perbaikan sarana pendukung seperti sistem pengairan, transportasi, komunikasi, dan sarana pasar.Selain itu, buah pisang juga mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi dibandingkan dengan buah-buahan lainnya.





 Berikut ini disajikan nilai gizi buah pisang dalam 100 gram: 
Nutrisi
Pisang (acuminata)
Pisang Kering
Pisang Basah
Air (%)
Karbohidrat (g)
Protein (g)
Lemak (g)
Abu (g)
75.7
22.2
1.1
0.2
0.8
-
91.4
4.5
0.8
3.3
Vitamin
Gros Michel
Cavendish
Vitamin A (SI)
As. Ascorbic (mg)
Vitmin B (mg)
Thimin (mg)
Riboflavin (mg)
Niacin (mg)
3.8
13.3
25.0
3.3
3.8
4.7
5.1
20.0
-
2.6
5.3
4.8

           
Penelitian seorang epidemiolog dari University of California, Marilyn Kwan, membuktikan bahwa mengonsumsi pisang secara rutin dapat menurunkan risiko terkena leukemia. Efek ini terlihat nyata kalau pisang dimakan secara teratur 4 - 6 kali seminggu sampai bayi berumur dua tahun. Pisang mampu menjadi benteng pertahanan serangan leukemia sejak dini karena kaya vitamin C. Sebagai antioksidan, vitamin C mampu menurunkan risiko kerusakan DNA. Dengan demikian otomatis proses munculnya kanker dapat dihentikan. Menurut Kwan, potasium dalam pisang juga terbukti menstabilkan DNA.

2.5. Subsistem Yang Paling Berperan
            Subsistem yang paling berperan sesuai dengan permasalahan komoditi pisang ini adalah farming system. Agar hasil tanaman pisang dapat tumbuh dengan baik, hendaklah kita memilih rumpun bibit buah pisang yang baik dan sehat serta bebas dari penyakit maupun bakteri. Pembibitan dapat dilakukan melalui kultur jaringan. Dengan adanya farming system yang baik, hasil yang didapat dari tanaman buah pisang akan meningkat. Selain itu farming system yang didukung dengan research and development yang baik dapat meningkatkan produktivitas komoditi buah pisang sehingga eksport pisang dapat bersaing dipasar global.

2.6. Pengembangan Agribisnis
2.6.1. Analisis SWOT.
1. Kekuatan ( Strengths )
            Kekuatan yang terdapat pada komoditi pisang dibandingkan dengan buah-buahan lainnya adalah buah pisang merupakan komoditas buah tropis yang sangat popular di dunia.  Hal ini dikarenakan rasanya lezat, gizinya tinggi, dan harganya relatif murah. Pisang merupakan salah satu tanaman yang mempunyai prospek cerah di masa datang karena di seluruh dunia hampir setiap orang gemar mengkonsumsi buah pisang. Selain itu juga pisang mengandung kalium dalam dosis besar dan sedikit kromium, yang diperlukan untuk pembentukan enzim. Baik untuk divertikulitis, ulkus, kolitis, heartburn, dan kelelahan. Secara tradisional, air umbi batang pisang kepok dimanfaatkan sebagai obat disentri dan pendarahan usus besar sedangkan air batang pisang digunakan sebagai obat sakit kencing dan penawar.
     Pisang merupakan salah satu bahan pangan penting di daerah tropika basah.  Buah yang masih berwarna hijau mengandung 40% karbohidrat dan 6% protein, vitamin dan mineral.  Satu ton buah pisang masak hijau mengandung sekitar 545 kg daging buah segaratau 218 kg daging buah kering, setara dengan 364 800 kalori. Hasil pengujian oleh Direktorat Gizi (1979) menunjuk­kan bahwa daging buah pisang mengandung protein, lemak, karbohidrat, kalsium, fosfor, besi dan vitamin A, B, C, dan air.  Setiap 100 g daging buah pisang masak menghasil­kan kalori sebesar 68-127 kcal. Ditinjau dari segi enerji dan gizi, tanaman pisang dapat menggantikan kedudukan ubikayu.
Ditinjau dari nilai gizinya, daging buah (pulp) pisang mengandung air sebesar 70 %, karbohidrat 27 %, serat kasar 0,5 %, protein 1,2 %, lemak 0,3 %, abu 0,9 % dan vitamin serta mineral sebesar 0,1 %. Pada pisang yang masih hijau tetapi sudah cukup tua mempunyai kandungan karbohidrat sebesar 21 - 25 persen.
Selain itu tanaman pisang sangat mudah dibudidayakan dan cepat menghasilkan sehingga lebih disukai petani untuk dibudidayakan, contohnya saja di Indonesia tepatnya di Kabupaten Cianjur banyak ditanami pohon pisang, daerah ini sendiri mempunyai luas wilayah 350.148 Ha dengan jumlah penduduk 1.931.840 jiwa dan laju pertumbuhan penduduk 1,57 % merupakan potensi yang cukup besar. Kondisi alam kabupaten Cianjur yang subur mengandung kekayaan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang sangat potensial dan merupakan modal dasar pembangunan. Lahan-lahan pertanian dan perkebunan sangat memungkinkan untuk ditingkatkan pengelolaan dan pengolahannya sehingga menjadi sumber kehidupan masyarakat. Lokasi kota Cianjur juga berada pada jalur utama ekonomi regional Jawa Barat memberikan kemudahan dalam memasarkan hasil produksi buah pisang tersebut.
2. Kelemahan ( Weaknesses )
            Ada kekuatan pasti ada kelemahan. Kelemahan pada komoditi pisang khususnya di Indonesia adalah kurangnya kepedulian pemerintah terhadap perkebunan maupun petani pisang karena pemerintah hanya sibuk mengurusi urusan politik saja urusan perkebunan khususnya pisang terlupakan. Alhasil Kualitas SDM relatif masih rendah dan banyak pula buah pisang yang terserang hama yang mengakibatkan produksi buah pisang menurun. Sebenaranya industri pengolahan pisang di Indonesia sudah mampu memasok pasar domestik dan juga sudah mulai mengekspor. Namun terbatasnya daya serap pasar domestik dan persaingan pasar yang semakin ketat, sehingga kesinambungan industri pengolahan masih kurang lancar. Hal ini dikarenakan rendahnya daya saing produk pada aspek jaminan mutu / penerapan HACCP (Hazard Analytical Critical Control Point) dan jaminan suplai, manajemen distribusi, time delivery, cost efficiency,  product appearance,  tuntutan atribut produk misalnya kesesuaian dengan ISO series (ecolabeling, ecoefficiency), dll sesuai dengan  tuntutan pasar.  
Keseluruhan aspek tersebut merupakan hambatan ekspor yang menurut tatacara aturan perdagangan global  WTO dimasukkan dalam kategori SPS (Sanitary dan Phytosanitary) dan TBT (Technical Barrier to Trade). Misalnya saja Negra Jepang yang menolak masuknya beberapa buah-buahan Indonesia seperti pisang dan beberapa jenis buah-buahan lainnya dengan alasan lalat buah. Dalam hal ini Indonesia tidak mengajukan protes ke Komisi SPS WTO karena kenyataannya memang terjadi di Indonesia dan Indonesia sejauh ini belum mampu mengatasinya, dan masih banyak lagi kelemahan lainnya. Kelemahan - kelemahan ini terjadi tidak lain dan tidak bukan karena kurangnya perhatian pemerintah terhadap perkebunan pisang.

3. Peluang ( Opportunities )
   Sebenarnya buah pisang  mempunyai peluang yang cukup besar. Hal ini karena buah pisang mudah didapat sehingga besarnya angka konsumsi buah pisang yang tak berhenti akan membuat peluang ekspor menjadi lebih besar dimasa mendatang. Dan banyaknya pengusaha - pengusaha menjadikan pisang sebagai lahan bisnis baru yang juga akan memperbesar peluang produksi pisang. Keuntungan yang di peroleh dari produksi pisang juga sangat besar, misalkan saja Usaha tani pisang yang sekarang dilakukan oleh penduduk umumnya masih tergolong "low input”, sehingga secara ekonomis memberikan keuntungan petani. Tabel 1 dan 2 menyajikan analisis finansial usahatani pisang rakyat.

Analisis kelayakan ekonomis usahatani pisang secara monokultur menunjukkan prospek yang sangat menguntungkan, terutama Kultivar Ambon dan Sobo (Tabel 3).

            Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa pisang adalah tanaman yang telah lazim di jawa Timur. Oleh karean itu pisang dapat dipelihara oleh setiap anggota masyarakat, tidak memerlukan teknologi tinggi dan dengan cara sederhana dapat berkembang biak dengan baik. Dengan demikian untuk meningkatkan populasi, dan produksi buah pisang, akan dilaksanakan Sentra Pengembangan Agibisnis Komoditas Unggulan (SPAKU) Pisang. Selain itu di Kabupaten Cianjur mempunyai peluang - peluang lain antara lain :
1. Otonomi Daerah
Paradigma baru penyelenggaraan pemerintahan dengan lahirnya UU No. 22
Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, merubah pola sentralistik menjadi
desentralistik.
2. Pasar Terbuka
Hasil produksi Kabupaten Cianjur, khususnya dari sektor pertanian mudah untuk dipasarkan.
3. Diminati Investor
Potensi sumber daya alam di Kabupaten Cianjur banyak diminati kalangan masyarakat/dunia usaha untuk me-nanamkan modalnya.
4. Globalisasi
Ditandai dengan makin ketatnya standar persaingan / kompetisi untuk bekerja di berbagai sektor.
4. Kendala (Threats )
            Setiap kegiatan pasti mempunyai kendala, tak terkecuali dalam pengembangan produksi pisang. Kendala yang di hadapi dalam pengembangan pisang antara lain :
a.       Ketidakpastian iklim politik, situasi dan kondisi stabilitas nasional yang belum          sepenuhya pulih, secara langsung maupun tidak langsung berimbas pula pada goyahnya stabilitas daerah.
b.      Ketidakpastian perekonomian nasional, pertumbuhan ekonomi daerah tidak terlepas dari fenomena pertumbuhan ekonomi nasional.
c.       Ketidakmenentuan iklim global. Misalkan Kabupaten Cianjur sebagai daerah agraris yang pembangunannya bertumpu pada sektor pertanian sangat rentan terhadap ketidakmenentuan iklim global seperti fluktuasi musim hujan dan musim kemarau berkepanjangan.
Selain itu strategi pengembangan juga merupakan kendala dengan mencermati perkembangan neraca perdagangan ekspor impor produk pisang, perlu penanganan yang serius dari semua pihak terkait baik antar instansi pemerintah, swasta, pelaku / praktisi agribisnis serta stakeholder lainnya. Penanganan secara bersama-sama dengan mengintegrasikan strategi yang berorientasi internal dan eksternal yang dilakukan secara konsisten dan berkesungguhan. Penjabaran rinci dari perjanjan WTO dalam perdagangan produk pertanian yang harus dipatuhi dalam mengekspor produk pertanian adalah “Agreement on Agriculture” yang bertujuan meningkatkan akses pasar, pengurangan subsidi ekspor dan pengurangan bantuan kepada petani agar produksi petani menjadi lebih efisien.  Pemanfaatan perjanjian dan kesepakatan ini belum banyak dilakukan sehingga peluang untuk meningkatkan daya saing produk pertanian belum dapat dicapai.  Selama ini ketentuan WTO masih sering merupakan hambatan ekspor dari pada peluang peningkatan ekspor.
Penerapan SPS (Sanitary dan Phytosanitary) pada produk pertanian yang diperdagangkan harus memenuhi kebijakan standar sanitasi yang telah ditetapkan dimana ketentuan ini bertujuan untuk melindungi kesehatan dan keselamatan masyarakat, perlindungan hewan,tanaman dan lingkungan hidup.  SPS pada dasarnya tidak boleh menjadi hambatan yang tidak wajar dalam perdagangan internasional.  Selama ini ketentuan SPS masih merupakan hambatan ekspor bagi produk pertanian Indonesia, perlu diubah agar penerapan SPS dapat dijadikan dorongan bagi peningkatan daya saing produk pertanian Indonesia di pasar Global.  
Operasional  penyebaran dan pengembangan komoditi pisang juga mempunyai kendala, misalnya peyebaran bibit pisang yang kurang merata, pemasaran hasil produksi, hama dan penyakit serta cara penanaman yang kurang baik. Hal - hal inilah yang merupakan kendala - kendala yang di hadapi dalam pengembangan produksi pisang. Seandainya kendala - kendala ini dapat diatasi mungkin produksi pisang tiap tahunnya dapat meningkat.

2.6.2. Segmen Pasar.
            Segmen pasar yang ditawarkan oleh buah pisang adalah dengan keanekaragaman jenis buah pisang seperti: pisang cavendish (merupakan buah pisang yang sangat digemari oleh konsumen baik lokal maupun mancanegara), pisang raja, pisang barangan, pisang jambe, pisang raja sere, pisang kapok, pisang bali, pisang mas, pisang lampung, dan sebagainya. Selain itu, standar mutu lain yang harus dipenuhi adalah pengelompokkan buah pisang, bentuk fisik buah pisang (ketahanan buah pisang terhadap hama penyakit), maupun kebersihannya untuk menjaga kepercayaan konsumen. Disamping itu mereka memperketat sortasi buah pisang yang diterima dari petani/kelompok tani sehingga tidak semua produk yang dihasilkan petani/kelompok tani dapat diterima oleh segmen pasar.

2.7. Pengembangan Komoditi Agribisnis Berdasarkan Bauran Pemasaran (4P)
2.7.1. Bagaimana 4P Digunakan.
1.      Product            
Didalam pasar dunia, diantara sekian banyak jenis buah pisang, buah pisang cavendishlah yang merupakan produk unggulannya. Hal ini dikarenakan buah pisang cavendish telah sesuai dengan permintaan segmen pasar, Pisang Cavendish di Indonesia lebih dikenal dengan Pisang Ambon Putih.  Varietas yang dikembangkan di SEAMEO BIOTROP adalah jenis Pisang Cavendish Grand Naim yang banyak dijual di supermarket sebagai pisang meja yaitu pisang yang dihidangkan langsung untuk dikonsumsi.  Pisang Cavendish juga banyak dijadikan sebagai konsumsi pabrik puree, tepung pisang sebagai bahan makanan bayi. Karena buah pisang sangat bergizi dan merupakan sumber vitamin, mineral dan juga karbohidrat menyebabkan meningkatnya permintaan buah pisang untuk kebutuhan lokal maupun untuk ekspor,bentuk dan ukuran buah, cara pengemasan dan rasa yang lebih enak mendorong konsumen untuk lebih banyak membeli baik berupa buah pisang segar maupun pisang olahan. Beberapa macam hasil olahan buah pisang seperti:sale pisang, tepung pisang, sari buah pisang, anggur pisang, keripik pisang, jem pisang, buah pisang dalam sirup, tape pisang, dan lain-lain.
2.      Price     
Pemasaran buah pisang dilakukan dengan menentukan harga yang sesuai dengan produk dilihat dari standar mutu buah pisang, agar buah pisang dapat laku dipasaran. Harga pisang disesuaikan oleh mutu dan varietasnya.

                 

3.      Promotion
Salah satu kegiatan promosi dilakukan adalah dengan pemberian nama merk/label pada buah pisang terutama pada buah pisang olahan. Misalnya pada pisang Monkey ditemple 2 buah lebel kertas nama perusahaan pada kulit pisang. Sedangkan label kertas nama pisang cavendish ditempel diatas plastik pembungkus. Sedangkan pisang Cavendish yang baru di impor plastiknya sudah terdapat tulisan nama perusahaannya. Selain label tersebut produk yang baru masuk juga diberikan label keterangan mengenai 5 macam kelebihan pisang tersebut yaitu pertama ditanam di daerah pegunungan yang ternama, kedua ditanam di daerah dengan ketinggian 500 m, ketiga berasal dari pulau yang banyak terdapat guano sehingga tidak menggunakan pupuk kimia, keempat pengairan menggunakan air yang bersih, kelima warna kulit bagus tanpa treatment bahan kimia.Hal ini sangat mempengaruhi kegiatan promosi,karena dapat menampilkan kualitas pisang sehingga konsumen akan tertarik.Selain itu, bentuk pengemasan yang bagus merupakan faktor penarik produk apalagi saat dipromosikan melalui media.Pengemasan bisa berupa peti kayu,keranjang bambu,dikemas dalam daun kering maupun dengan plastik. Buah yang dikemas penampilannya lebih menarik
4.      Place
            Tempat penjualan yang dipilih adalah tempat yang berada dekat dengan pasar, baik pasar nasional maupun pasar internasional. Biasanya buah pisang dijual dipasar buah atau disupermarket. Buah pisang dapat dipasarkan secara langsung dari tangan produsen maupun secara tidak langsung melalui perantara (pasar).

2.7.2. Pertimbangan Yang Diterapkan Pengusaha Agribisnis.
Suatu perusahaan bisa sukses apabila dapat melaksanakan strategi bauran pemasaran atau yang biasa disebut marketing mix, yang terdiri dari 4P yaitu product, price, promotion, dan place serta 1S yaitu costumer services. Dalam menghadapi persaingan global, perusahaan harus mengetahui selera konsumen agar produksi yang dihasilkan dapat menguntungkan bagi perusahaan. Dalam prinsip pemasaran, perusahaan meyakini bahwa suatu produk tidak akan pernah sesuai dengan keseluruhan pasar. Oleh karena itu, maka pemasar yang baik adalah orang yang dapat menentukan dengan tepat apa yang harus dijual secara tepat kepada konsumen. Selanjutnya, bagaimana perusahaan dapat memberikan kepuasan kepada segmen yang sesuai.
            Selain dari itu,perusahaan dalam melaksanakan kegiatan produksi haruslah ramah lingkungan,dalam artian tidak merusak lingkungan sekitar dengan membuang limbah produksi sembarangan dan sebisa mungkin limbah tersebut bisa didaur ulang,sehingga terciptalah keselarasan dan keseimbangan dengan lingkungan,dan juga untuk memproduksi buah pisang sebaiknya menggunakan bahan-bahan alami dan mengurangi bahan kimia sehingga menghasilkan jenis pisang organik yang sehat dan bergizi.

2.8. Potensi Ekspor Komoditi Pisang dan Saingannya Dipasar Ekspor
            Potensi ekspor buah pisang mempunyai peluang yang cukup besar baik dipasar domestik maupun diluar negeri. Hal ini ditunjang dengan ketersediaan lahan yang cukup luas, iklim yang mendukung, keragaman varietas yang cukup tinggi, sumber daya manusia, serta inovasi tekhnologi untuk pengelolaan tanaman pisang. Pisang mempunyai potensi eksport yang cukup tinggi karena buah pisang bukan saja sebagai buah yang segar, tetapi buah pisang juga mempunyai nilai ekonomis. Untuk memenuhi kebutuhan buah dan produk olahan pisang untuk ekspor pada tahun 2010 diperkirakan memerlukan areal pertanaman sekitar 5.000-6.000 ha atau dibutuhkan sekitar 5-7 perusahaan skala besar.
            Penanaman pisang berskala besar telah dilakukan di beberapa tempat antara lain di pulau Halmahera (Maluku Utara), Lampung, Mojokerto (Jawa Timur), dan beberapa tempat lainnya, sehingga Indonesia pernah pengekspor pisang dengan volume mencapai lebih dari 100.000 ton pada tahun 1996, tetapi pada tahun-tahun berikutnya volume ekspor tersebut terus menurun dan mencapai titik terendah pada tahun 2004 yaitu hanya 27 ton. Kenyataan ini menunjukkan bahwa sebetulnya Indonesia mempunyai peluang yang cukup besar untuk meningkatkan ekspor buah pisang pada tahun-tahun mendatang.
            Sentra produksi buah pisang di Indonesia seperti: propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Sumatera Barat, Jambi, Kalimantan, Sulawesi, Maluku,Bali, dan NTB dengan berbagai jenis buah pisang yang dihasilkan. Di pasar dunia, pisang - pisang olahan lokal juga menawarkan harga yang relatif murah dibandingkan dengan perusahaan - perusahaan olahan asing. Produsen pisang olahan lokal ini menawarkan produknya dengan harga yang relatif murah bukan tanpa tujuan, tujuannya adalah agar dapat menerobos pasar dunia dan memperkenalkan kepada dunia bahwa produk olahan pisang lokal sangat berkualitas dan bergizi tanpa mengurangi sumber vitamin, mineral dan juga karbohidrat yang sudah ada di dalam pisang tersebut.
            Informasi statistik yang diberikan oleh AMARTA menyebutkan bahwa Indonesia merupakan produsen buah-buahan tropis yang signifikan. Negara ini menempati urutan keenam dari semua produsen, dengan rata rata pertumbuhan tahunan sebesar 4.76%.  Pada tahun 2005, total produksi buah Indonesia adalah 14,786,599 MT. Sebagian besar buah adalah pisang, jeruk siam, mangga, salak, dan nanas. Pisang merupakan kontributor terbesar dari output total (35.02%).  Pada tahun yang sama, Jawa Barat merupakan penghasil pisang terbesar dengan produksi sebesar 1,420,088 MT. Jawa Timur merupakan terbesar kedua dengan 856,873 MT. Di antara negara anggota ASEAN, Indonesia menempati urutan kedua dalam produksi pisang, setelah Filipina. Namun, dalam hal produktivitas, negara ini menempati urutan keempat. Penting untuk dicatat bahwa rantai supermarket di Indonesia hanya membeli 20% dari total produksi buah lokal, menjadikan segmen pasar ini sebagai sasaran untuk perkembangan dan pertumbuhan di masa mendatang.
Ekspor buah pisang tidak kalah saingannya dengan ekspor buah-buahan yang lain karena budidaya pisang sudah merupakan suatu industri yang didukung oleh kultur tekhnis yang prima dan stasiun pengepakan yang modern dan pengepakan yang memenuhi standar internasional baik seperti Good Agriculture Practices (GAP), Integrated Pest Management (IPM), dan Analysis Critical Point (HACCP). Peluang eksport pisang Indonesia tidak kalah bersaing dengan produk buah pisang dari negara lain. Hal ini dilihat dari sisi untuk pemasaran internasional, dan kedepannya untuk mengembangkan produk pisang dipasar domestik dengan mencoba mengembangkan peluang investasi yang merupakan prospek bisnis dan pengembangan agrobisnis buah pisang.
            Tabel dibawah ini menunjukkan bahwa sebetulnya Indonesia mempunyai peluang yang cukup besar untuk meningkatkan ekspor buah pisang pada tahun mendatang.

Komoditi
Tahun
Negara Tujuan
Jumlah Ekspor
Harga (US$)
Pisang segar dan pisang olahan.
1987
1989
1991
1996
1999
2002
2003
2004
2005
Jepang, Australi, Jerman, Belanda, Perancis, Kanada, Arab Saudi,........
62.787 kg
82.419 kg
89.964 kg
101.495 ton
77.473 ton
512.,27 ton
10.615 kg
992.505 kg
470.700 ton
51.315
65.402
-
-
140.736
979.730
7.899
722.772
-
Target produksi buah pisang baik dalam maupun luar negeri

2009
2025

6.125.000 ton
11.266.000 ton
-
-





Perkembangan Ekspor Buah-Buahan Tropis Indonesia Tahun 2002-2004 (Kg, US $)
   
Komoditas
Tahun
2002
2003
2004
Volume
(Kg)
Nilai
(US $)
Volume
 (Kg)
Nilai
(US $)
Volume
 (Kg)
Nilai
(US $)
Manggis
6.512.423
6.956.915
9.304.511
9.306.042
3.045.379
3.291.855
Pepaya
3.287
6.643
187.972
231.350
524.686
1.301.371
Pisang
512.596
979.729
10.615
7.899
992.505
722.772
Nenas
3.734.414
2.784.582
2.284.432
2.315.283
2.431.263
529.122
Duku
16.921
6.313
21.044
12.662
1.643
1.643
Durian
89.479
96.634
14.241
12.943
1.494
6.710
Jambu
32.052
28.859
47.871
49.843
106.274
102.074
Jeruk
156.437
75.320
85.920
22.026
632.996
517.554
Mangga
1.572.634
2.671.995
559.224
460.674
1.879.664
2.013.390
Rambutan
366.435
588.140
604.006
958.850
134.772
117.336
Buah tropis lainnya
1.591.329
1.451.391
984.820
523.031
1.341.923
794.924
 Sumber : Badan Pusat Statistik, 2002-2004
Frans Hero K. Purba
Subdit Promosi dan Pengembangan Pasar
Direktorat Pemasaran Intenasional
Ditjen PPHP

Departemen Pertanian
Pusat Data dan Informasi Pertanian

EKSPOR PISANG PERNEGARA TUJUAN
Periode : April s/d Mei 2007

Negara
April
Mei
Jumlah
Volume (Kg)
Nilai (US$)
Volume (Kg)
Nilai (US$)
Volume (Kg)
Nilai (US$)
Japan
148,720.00
40,040.00
0.00
0.00
148,720.00
40,040.00
Hong Kong
19,767.00
5,835.00
39,204.00
11,544.00
58,971.00
17,379.00
Singapore
142.00
1,212.00
0.00
0.00
142.00
1,212.00
Malaysia
13,324.00
1,330.00
10,000.00
840.00
23,324.00
2,170.00
Iran,islamic Rep. Of
501,930.00
173,745.00
483,340.00
167,310.00
985,270.00
341,055.00
Saudi Arabia
3,481.00
6,510.00
18,590.00
5,506.00
22,071.00
12,016.00
Kuwait
37,180.00
12,441.00
37,180.00
12,442.00
74,360.00
24,883.00
United Arab Emirates
37,180.00
12,441.00
130,130.00
43,545.00
167,310.00
55,986.00
United States
50.00
122.00
0.00
0.00
50.00
122.00
Total
761,774.00
253,676.00
718,444.00
241





Departemen Pertanian
Pusat Data dan Informasi Pertanian

NERACA PERDAGANGAN KOMODITI PERTANIAN SUBSEKTOR HORTIKULTURA
Periode : Januari s/d Mei 2007 (US$ 000)

No.
Komoditi
Bulan
Pertumbuhan (%)
Januari
Pebruari
Maret
April
Mei
1
Pisang (segar)
17.76
2.68
12.81
253.68
241.19
542.10

T O T A L
17.76
2.68
12.81
253.68
241.19
542.10











PRODUKSI
TANAMAN BUAH - BUAHAN DI INDONESIA
PERIODE 2003 - 2007*)







NO
KOMODITAS
Produksi
( Ton )
2003
2004
2005
2006
2007*)







1
Alpukat
255,957
221,774
227,577
239,463
212,015
2
Belimbing
67,261
78,117
65,966
70,298
56,429
3
Duku
232,814
146,067
163,389
157,655
182,127
4
Durian
741,831
675,902
566,205
747,848
632,557
5
Jambu Biji
239,108
210,320
178,509
196,180
180,355
6
Jambu Air
115,210
117,576
110,704
128,648
100,652
7
Jeruk siam
1,441,680
1,994,760
2,150,219
2,479,852
2,377,090
8
Jeruk Besar
88,144
76,324
63,801
85,691
72,599
9
Mangga
1,526,474
1,437,665
1,412,884
1,621,997
1,781,967
10
Manggis
79,073
62,117
64,711
72,634
100,042
11
Nangka/Cempedak
694,654
710,795
712,693
683,904
618,920
12
Nenas
677,089
709,918
925,082
1,427,781
2,304,234
13
Pepaya
626,745
732,611
548,657
643,451
625,864
14
Pisang
4,177,155
4,874,439
5,177,608
5,037,472
5,270,131
15
Rambutan
815,438
709,857
675,578
801,077
628,793
16
Salak
928,613
800,975
937,931
861,950
818,310
17
Sawo
83,877
88,031
83,787
107,169
110,418
18
Markisa
71,898
59,435
82,892
119,683
111,485
19
Sirsak
68,426
82,338
75,767
84,373
60,035
20
Sukun
62,432
66,994
73,637
88,339
96,563
21
Melon
70,560
47,664
58,440
55,370
59,653
22
Semangka
455,464
410,195
366,702
392,587
360,513
23
Blewah
31,532
34,582
63,860
67,708
59,556
Total Buah-Buahan
13,551,435
14,348,456
14,786,599
16,171,130
16,820,308















http://www.hortikultura.deptan.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=124&Itemid=160




2.9. Atribut Kualitas Komoditi Pisang
Agar kualitas buah pisang yang dihasilkan sesuai dengan standar internasional, diperlukannya atribut kualitas yang baik dalam mengolah atau memproses yang menjadi berbagai macam produk. Atribut kualitas yang digunakan antara lain:
a.       Bahan baku yang dipakai memiliki kualitas yang baik, karena bahan baku buah pisang merupakan faktor utama yang harus terjamin baik kuantitas maupun kontinuitas. Buah pisang memiliki rasa yang enak, selain itu mengandung nilai gizi yang cukup banyak.
b.      Berbagai macam manfaat buah pisang, salah satunya adalah dapat diolah untuk menjadi makanan olahan pisang yaitu keripik, sale dan sebagainya.
c.       Standar buah pisang mengacu pada SNI-01-4229-1996 yaitu berdasarkan persyaratan klasifikasi dan standar mutu pisang. Untuk mengetahui dan mencapai syarat mutu pisang harus melakukan pengujian yang meliputi  Penentuan keseragaman kultivar, Penetuan keseragaman ukuran buah, Penentuan tingkat ketuaan, Penentuan tingkat kerusakan fisik/mekanis, dan Penentuan kadar kotoran. Adapun klasifikasi pisang berdasarkan: panjang jari (cm),berat isi (kg),dan diameter pisang (cm).

                                                                              Sistem Pembiayaan Komoditi Pisang

Dalam mendorong pengembangan pisang di Kabupaten Cianjur khsusunya Kecamatan Cugenang, telah difasilitasi penyusunan dan sosialisasi SOP, fasilitasi percontohan pembrongsongan pisang, inisiasi pembentukan asosiasi petani Pisang Kecamatan Cugenang, inisiasi kemitraan, sosialisasi pemanfaatan KKP-E untuk pembiayaan pisang dan bersama Dinas Pertanian.
Untuk menyederhanakan penguasaan dan penggunaan faktor-faktor produksi dalam budidaya dan pemasaran hasil pisang abaca serta menjamin keamanan kredit perbankan, maka pola kemitraan yang dikembangkan dengan mekanisme closed system, akan dapat saling menguntungkan antara pihak-pihak yang bermitra, yaitu koperasi dan anggotanya (petani plasma) mitra usaha besar dan perbankan.
Untuk mengembangkan perkebunan pisang abaca dengan pola kemitraan di perlukan biaya investasi untuk pengadaan bibit, peralatan dan mesin. Disamping itu juga di perlukan modal kerja untuk pengadaan sarana produksi dan pembiayaan dan tenaga kerja. Untuk sementara jumlah biaya investasi yang diperlukan sebesar Rp. 6.733.000.- yang terdiri dari dana sendiri Rp. 1.500.000,- dan kredit bank Rp. 5.273.000,- . Sedangkan modal kerja yang diperlukan sebesar Rp. 4.995.000,- yang terdiri dari modal sendiri Rp. 250.000,- dan kredit dari bank Rp. 4.745.000,-
Secara finansial, budidaya pisang abaca layak untuk diusahakan yang ditunjukkan oleh parameter-parameter finansial antara lain :
    • IRR sebesar 25,01% jauh lebih besar dari tingkat suku bunga KLBI (KKPA sebesar 16% per tahun)
    • NPV sebesar Rp. 6.603.493
    • Payback period sebesar 31 bulan
    • BEP volume sebesar 4.743 kg

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
            Tanaman pisang merupakan tanaman yang sangat sederhana. Walaupun demikian, tanaman pisang mempunyai banyak manfaat, salah satunya adalah dapat diolah menjadi macam-macam bentuk makanan olahan seperti keripik pisang, sale pisang, dan lain-lain.
            Indonesia merupakan negara tropis, sangat subur untuk sebagian besar tanaman, termasuk buah pisang. Buah pisang dapat tumbuh dimana-mana, baik sebagai tanaman sela, batas/pagar disekitar rumah dan dipekarangan-pekarangan termasuk kebun. Oleh sebab itu, tanaman pisang dalam pembangunan negara dapat merupakan suatu sumber devisa negara yang sangat baik.
            Buah pisang mempunyai peluang eksport menggairahkan yang tidak kalah saing dengan buah-buah lainnya. Pisang mempunyai keunggulan antara lain:
a.       mempunyai prospek pasar yang baik.
b.      mempunyai potensi pengembangan yang luas.
c.       memiliki nilai ekonomis/jual yang tinggi dan menguntungkan
           
3.2. Saran
Saran yang dapat disampaikan dari hasil penulisan ini adalah sebaiknya pemerintah dan aparat desa lebih memperhatikan masyarakat dan sering memberikan pelatihan untuk menambah keahlian dan ketrampilan masyarakat sehingga masyarakat memiliki modal dalam bentuk pengetahuan dan keahlian dalam penanaman pisang agar dapat tumbuh dan berkembang lebih baik dan perkebunan pisang berpotensi sebagai unit usaha yang mampu menciptakan kesempatan kerja bagi penduduk yang tingkat pendidikan pada umumnya relatif rendah sehingga diharapkan pemerintah selalu memperhatikan produk hasil olahan pisang, hal ini dapat ditempuh dengan mengalokasikan kemudahan kredit dengan bunga yang ringan untuk industri rumah tangga, memberikan kemudahan-kemudahan dalam perizinan, selain itu pemerintah juga harus memperhatikan pemasaran produk-produk hasil olahan pisang tersebut.
            Selain itu, agar dapat memproduksi buah pisang dengan baik, gunakanlah budidaya standar internasional yang telah ditetapkan dengan sistem tekhnologi yang canggih supaya buah pisang dapat bersaing dengan buah-buah lainnya dipasar global, sekaligus meningkatkan pendapatan devisa negara melalui ekspor.
            Buah pisang yang penampilannya kurang menarik, harganya menjadi sangat murah. Buah pisang itu dapat ditingkatkan nilai ekonomisnya dengan mengolahnya menjadi makanan buah pisang olahan.





DAFTAR PUSTAKA
Abidin A.Sukarti, Bertanam buah-buahan di Pekerangan (Bogor : Bagian hortikultura Departemen Agronomi IPB, 1977).
Anonim, Anjuran Pemupukan Tanaman Jeruk dan Pisang, Liptan, BIP Departemen Pertanian Jawa Timur, No. 13, tahun 1988.
_______, Banpres Pisang dan Kambing Gunung Kidul, Sinar Tani, 25 Januari 1989.
______,Bertanam Pohon buah-buahan, Seri Pembangunan Desa (Jakarta : Bhratara Karya Aksara, 1980).
______, Hama dan Penyakit Tanaman (Jakarta : Bhratara Karya Aksara, 1974).
_______, Penyakit Pisang di Indonesia, Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian, No. 2, Vol. 6, Maret 1989.
_______, Peraturan Menteri Kesehatan RI Tentang Bahan-bahan Tambahan Makanan (Jakarta : Proyek Peningkatan Keamanan Makanan Departemen Kesehatan RI, 1979).
_______, Pisang (Jakarta : Pusat Penelitian Hortikultura Pasar Minggu, 1989).
Djamal-Har. A., Manfaat Batang Pisang untuk Pupuk Kompos, Sinar Tani, 26 Agustus 1989.
Lembaga Biologi Nasional, Manfaat Buah Pisang, Sinar Tani, 12 April 1989.
Rukmana Rahmat, Citra Pisang Sebagai Komoditi Perdagangan, Sinar Tani, 8 februari 1989.
Satuhu Suyanti BSc dan Ahmad Supriyadi, Pisang, Jakarta : PT. Penebar Swadaya,1998.
Sudarmo Widayati M., Rahasia di Balik Bonggol dan Bunga Pisang, Sinat Tani, 3 Oktober 1987.
Sumartono, Pisang (Jakarta : Bumi Restu, 1981).
Utami Dewi, Pengaruh Lama Penyimpanan Bahan Baku Terhadap Mutu Keripik Pisang, Evaluasi Hasil-hasil Penelitian Pasca Panen Holtikultura selama Pelita III (Jakarta : SBPHP, 1982).


Tidak ada komentar: