Jumat, 30 Desember 2011

makalah management agribisnis ( komoditi udang )


DAFTAR ISI

Latar belakang ...................................................................................................      2
Pentingnya Pengamatan Mulai Dari Produksi dan Konsumsi .....................       2
Produksi ……………………………………………………………….       2
Konsumsi ………………………………………………………………      2
Prospek Komoditi Udang dari Sisi Permintaan .............................................       3
Permasalahan Komoditi Udang dari Sisi Agribisnis .....................................        3
SUB-SYSTEM AGRIBISNIS ...........................................................................     4
Farming system. ....................................................................................       4
Processing ..............................................................................................       4
R & D .....................................................................................................       5
Government as Support Sub System ………………………………..        5
Cooperative Enterpreneur …………………………………………..        6
Subsistem yang berperan penting .......................................................       6
ANALISIS   SWOT …………………………………………………………..       6
            Strenght …………………………………………………………….....       6
            Weakness ………………………………………………………………      7
Opportunities …………………………………………………………        7
Threath ………………………………………………………………..       8
Segmentasi Pasar ..................................................................................       8
Bauran Pemasaran ...........................................................................................       8
Potensi Ekspor Komoditi  ................................................................................        9
Atribut Kualitas Komoditi ..............................................................................         10
Lembaga pembiayaan  ……………………………………………………….       10
KESIMPULAN .................................................................................................       14
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................      15
        











UDANG

  1. Latar belakang

Sektor perikanan Indonesia dalam era perdagangan bebas mempunyai peluang yang cukup besar. Salah satu komoditas ekspor Indonesia yang diharapkan dapat menyumbangkan devisa negara dari sektor non migas adalah udang. Konsumsi udang dunia terus meningkat, sementara itu sumber daya pantai Indonesia belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan demikian, dilihat dari sisi produksi, prospek industri udang Indonesia adalah sangat cerah. Ekspor udang Indonesia selama 25 tahun terakhir ini dengan laju pertumbuhan yang terus meningkat. Dimana, pasar udang terbesar di dunia saat ini adalah Jepang,Amerika Serikat serta Uni eropa.
Udang merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Rasanya yang gurih dan bentuk serta warnanya yang khas,menyebabkan udang menjadi makanan yang digemari oleh segala usia. Keunikan postur tubuhnya yang khas dan kerenyahannya membuat udang berbeda dari jenis makanan seafood lainnya. Sebagai salah satu sajian khas yang berselera,udang tentunya layak disajikan di hotel-hotel mewah,restoran-restoran terkenal,sampai di warung pinggir jalan sekalipun.

  1. Pentingnya Pengamatan Mulai Dari Produksi dan Konsumsi

A.     Produksi
Indonesia merupakan daerah terluas untuk pengelolaan tambak udang. Areal yang cocok untuk usaha ini mencapai ±960.000 hektar, tetapi yang tergarap baru sekitar 380.000 hektar. Jika kekurangan tersebut dibenahi secara serius dan total, lalu areal tambak yang dikelola mencapai sekitar 500.000 hektar, berarti volume produksi setiap tahun minimal dua ton per hektar atau satu juta ton per tahun. Namun, saat ini produksi udang hanya mencapai 300.000 ton/tahun
Sementara itu Produksi udang Indonesia sampai saat ini masih tetap diorientasikan ke pasar internasional, dengan negara-negara tujuan eksport, dimana dalam beberapa tahun terakhir ini udang indonesia telah menunjukkan laju pertumbuhan yang sangat fantastis. Selain peningkatan volume produksi, industri udang dunia juga diwarnai oleh pergeseran sistem produksi dari usaha penangkapan ke usaha budidaya khususnya di tambak.
Iwan mengatakan, “udang di Indonesia merupakan salah satu komoditas budidaya perikanan unggulan. Tahun lalu, produksi udang 300.000 ton. Produksi udang untuk tahun 2009 ditargetkan sebanyak 450.000 ton”. Maka dari itu permintaan akan udang dunia sangat tinggi, dan ini mendorong Indonesia untuk menjadi salah satu negara produsen udang. Saat ini, Indonesia tercatat sebagai negara produsen udang kedua terbesar di Asia setelah Cina.

B.     Konsumsi
Dari 380.000 hektar tambak yang dikelola, menghasilkan udang sekitar 300.000 ton per tahun. Sekitar 15 persen dari total produksi itu dikonsumsi dalam negeri. Selebihnya diekspor. Negara tujuan ekspor antara lain ke Jepang mencapai 60 persen, AS sekitar 14,5 persen, dan Uni Eropa 10,5 persen.
Konsumsi udang dunia pun mencapai tiga juta ton per tahun. Sekitar 500.000 ton dikonsumsi di AS. Konsumsi udang terbesar terjadi di Jepang. Di sana setiap orang mengonsumsi tiga kilogram udang per tahun. Lalu, disusul AS sebanyak 1,8 kg per orang per tahun dan Uni Eropa sekitar 1,5 kg per orang per tahun, tetapi konsumsi udang untuk setiap orang di Indonesia umumnya masih jauh di bawah satu kilogram per tahun
Perhitungan konsumsi nasional udang dilakukan dengan metoda produksi nasional ditambah impor dikurangi ekspor Dengan tingkat konsumsi yang terjadi di indonesia, menunjukkan bahwa selain sebagai komoditas pasar internasional, udang memiliki peluang untuk memenuhi permintaan pasar domestik. Apalagi, seiring dengan perkembangan perekonomian Indonesia yang diperkirakan membaik pada tahun-tahun yang akan datang, akan meningkatkan daya beli masyarakat dan konsumsi udang pun akan meningkat.

  1. Prospek Komoditi Udang dari Sisi Permintaan

Udang merupakan komoditas unggulan yang mempunyai nilai ekspor terbesar (sekitar 21 %) dari nilai perdagangan dunia hasil perikanan. Bagi Indonesia, udang merupakan komoditi ekspor andalan dengan sumber perolehan devisa meningkat lebih dari 50 % dari total ekspor hasil perikanan bersumber pada komoditas ini.
Devisa yang diraup dari ekspor perikanan per tahun di Indonesia mencapai sekitar US$ 2 miliar, maka separuh di antaranya berasal dari ekspor udang. Ini menandakan bahwa perkembangan potensi udang sebagai usaha agribisnis sangatlah baik untuk digeluti di Indonesia.
Produksi udang di Indonesia dihasilkan dari penangkapan di laut dan budidaya tambak, yang sebagian besar diekspor ke Jepang, Hongkong, Amerika Serikat (AS) dan Eropa.
Bahkan dewasa ini jika agrbisnis udang dikelola secara serius maka udang tidak hanya sebatas konsumsi makanan tetapi dapat juga dimanfaatakan sebagai produk inovasi seperti limbah kulit udang yang dapat diolah menjadi khitin dan khitosan sebagai obat antikolesterol, obat pelangsing tubuh, perban penghenti perdarahan, dan bahan kaus yang mampu menyerap keringat
         Bahan serat penyeimbang makanan dalam tubuh. Produk khitosan dalam bentuk pil kapsul bisa dipakai untuk mengurangi kadar kolesterol. Artinya produk tersebut bisa dipakai sebagai obat pelangsing tubuh tanpa efek samping
         khitosan dipakai untuk bahan pakaian dalam seperti kaus singlet, kaus oblong, dan kaus kaki bermutu tinggi. Sebab, kaus dari serat bahan khitosan ini mampu menyerap keringat dan menyerap bau badan secara maksimal
Di samping itu, daya serap serat khitosan tadi amat cocok sebagai materi tambahan untuk pembuatan kain tekstil. Berdasarkan riset, serat khitosan mampu mempertahankan warna dari kain tekstil agar tetap cerah

  1. Permasalahan Komoditi Udang dari Sisi Agribisnis

Diperkirakan komoditi udang akan tetap menjadi primadona ekspor hasil perikanan dalam dasawarsa ke depan. Alasannya, komoditas ini termasuk jenis yang paling banyak diminati para konsumen di berbagai penjuru dunia. Ini artinya, peluang bagi dunia perudangan nasional. Di sisi lain persaingan pasar global akan semakin ketat, sedangkan pola pemasaran ekspor Indonesia masih tergolong single market, akibat tingginya ketergantungan pada pasar tradisional. Maka sudah waktunya dirumuskan pola pengembangan pemasaran yang lebih agresif dengan melibatkan seluruh komponen bangsa dalam wadah Indonesian Fisheries Incorporated. Dan untuk mendorong kinerja ekspor hasil perikanan, Indonesia perlu meningkatkan kemampuan di bidang market intelligence. Tujuannya, agar dapat mewaspadai pesaing-pesaing baru dan mencari pasar-pasar baru / alternatif.
Sedangkan masalah utama dalam pengembangan industri udang di Indonesia yaitu:
1.      Masalah sosial - terutama keamanan dan gejolak sosial,
2.      Finansial - terbatasnya modal usaha khususnya bagi para petambak kecil dan investasi dari luar negeri,
3.      Masalah residu antibiotik,
4.      Rencana pemberlakuan anti-dumping oleh Amerika Serikat,
5.      Harga udang di pasar internasional yang sulit diramalkan
6.      Maraknya kampanye anti udang tambak


  1. SUB-SYSTEM AGRIBISNIS

Farming system.
Tahapan farming system pada agribisnis udang meliputi beberapa tahapan, antara lain:
·         Penentuan tambak
Tambak udang dirancang untuk meningkatkan dan memproduksi udang laut atau tawar untuk konsumsi manusia. Pertambakan udang komersial dimulai pada 1970-an, dan produksi tumbuh dengan cepat, terutama untuk memenuhi pertumbuhan permintaan Produksi global total dari udang tambak mencapai lebih dari 1,6 juta ton pada 2003, mewakili hampir 9 milyar dolar AS. Sekitar 75% udang tambak diproduksi di Asia, 25% sisanya diproduksi di Amerika Latin,
Pertambakan udang telah berubah dari bisnis tradisional, skala-kecil di Asia Tenggara menjadi sebuah bisnis global. Kemajuan teknologi telah mendorong pertumbuhan udang dengan kepadatan yang lebih tinggi.
·         Pembenihan
Pada umumnya, pembenihan udang mengambil waktu ± 35 hari. Sehingga dalam setahun dapat dilakukan 5 kali proses pembenihan, pembenihan itu sendiri dapat dilakukan setelah memperkirakan masa untuk membersihkan kelengkapan, waktu rehat / istirahat (break cycle) dan kinerja pemulihan peralatan yang akan dipakai.
·         Tekhnik pembudidayaan
Langkah-langkah penerapan budidaya udang yaitu didahului dengan memenuhi kelayakan dasar (pre-requisite) budidaya. Kelayakan dasar ini berisi GCP (Good Culture Practices) yang mengatur kebersihan umum, pembesaran dan penanganan tambak atau kolam pembudidayaan udang.. Kebersihan umum meliputi kebersihan area, pembersihan peralatan sebelum dan sesudah digunakan dan kebersihan gudang penyimpanan. Sedangkan pembesaran dan penanganan meliputi catatat dalam menjaga dan menyediakan : air dan penggunaan air, pakan dan pemberian pakan, penyakit dan pengontrolan penyakit, obat-obatan dan bahan kimia dengan petunjuk penggunaan, waktu dan periode pemberian; teknik pasca panen, pembersihan produk dengan air bersih, temperatur produk, pencegahan kontaminasi selama panen, sortasi, transpotasi serta kelambatan penanganan seminim mungkin. Secara garis besarnya, alur proses budidaya terdiri dari pemilihan lokasi/tempat budidaya, suplai air, pengelolaan lingkungan ikan/udang yang dipelihara, produksi dan panen.

Processing.
Konsep pengembangan budidaya udang dipengaruhi oleh 4 faktor utama, yaitu : perairan, lahan, teknologi budidaya, dan sumberdaya manusia yang masing-masing merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Mengingat budidaya udang merupakan suatu kegiatan yang ‘profit oriented”, maka pendekatan yang dilakukan terhadap ke empat faktor tersebut haruslah dikondisikan pada pendekatan yang mengarah pada ‘safety and comfortable financial” bagi para pelaku yang terlibat di dalam kegiatan budidaya tersebut.
Pemasaran udang merupakan tahapan terakhir untuk dapat memulai budidaya pada periode selanjutnya. Tidak seperti komoditas lainnya, udang merupakan komoditas yang ‘high perishable’ sehingga penanganan saat sebelum dipasarkan memerlukan konsep ‘fast and simple handling’ agar tidak terjadi penurunan kualitas udang, karena degradasi mutu udang berpengaruh nyata terhadap harga jualnya.
Setelah melalui proses pemanenan maka udang ditangani oleh bagian cold storage untuk dilakukan penyortiran udang berdasarkan size dan kualitasnya untuk menentukan standar harga udang tersebut. Size merupakan ukuran besar kecilnya udang atau secara definisi yaitu jumlah udang yang terdapat dalam 1 kilogram, sehingga semakin besar size udang maka ukurannya akan semakin kecil.
Mengacu pada konsep size dan mutu udang maka harga jual udang keseluruhan diperoleh melalui penghitungan presentase size dan mutu udang dari berat total hasil panen dikalikan harga berdasarkan size dan mutunya.

R & D.
Dalam pengembangan udang lokal, diperlukan reorientasi program budidaya udang nasional yang lebih mengedepankan kepada pengembangan budidaya udang lokal (indigenous) yang mempunyai nilai ekonomi tinggi khususnya udang windu (Penaeus monodon) dan udang putih (P. indicus). Hal ini mengingat bahwa akhir-akhir ini, budidaya udang nasional mulai di dominasi oleh udang “exotic” yang induknya sangat tergantung dari impor. Dalam jangka pendek, pengembangan budidaya udang “exotic” ini mungkin sangat menguntungkan, karena produktivitasnya dapat mencapai 50 ton/ha/panen. Tetapi, dalam jangka panjang – langkah ini mempunyai risiko yang sangat tinggi.
1.      Harga udang di pasar dunia saat ini terus merosot karena melimpahnya pasokan udang dari berbagai negara..
2.      Dari segi “market intelligence,” pengembangan budidaya udang “exotic” ini mempunyai beberapa kerawanan. Apabila terjadi konflik politik antara Indonesia dengan negara pemasok induk udang maka industri udang nasional dapat “collapse”.
Dari aspek “comparative advantage” pun, pengembangan udang secara komparatif tentunya lebih menguntungkan dibanding dengan pengembangan udang-udang “exotic”. Masalahnya adalah, bagaimana mengubah berbagai tantangan yang dihadapi dalam pengembangan udang menjadi peluang, termasuk peningkatan produktivitas, ancaman penyakit, dsb. Sementara itu, dukungan makro seperti jaminan keamanan, pola birokrasi yang efisien, tidak adanya rent seeking dan red tape practices akan meningkatkan minat investasi pada industri udang. Pola tindak antara para pihak yang bersinergi dalam konteks Indonesia incorporated  tidak hanya akan mempercepat perkembangan bisnis udang di tanah air tetapi akan mampu menggerakan roda perekonomian nasional agar dapat segera keluar dari krisis.

Government as Support Sub System.
Di Indonesia , Pemerintah melalui Departemen Kelautan dan Perikanan juga menyediakan bantuan modal yang disalurkan melalui dinas di tingkat kabupaten. Pinjaman ini juga tidak spesifik untuk udang saja.
Upaya lain yang dilakukan oleh pemerintah  meliputi, pembebtukan lembaga-lembaga yang mampu meringankan para petani udang dalam pengelolaan agribisnis udang mereka, seperti:
·         Membentuk lembaga pembiayaan, guna membantu peningkatan komoditi udang di berbagai daerah di Indonesia, dalam hal ini meliputi pembiayaan input-input produksi.
·         Membentuk Lembaga Pemasaran dan Distribusi dimana lembaga ini menjadi ujung tombak keberhasilan pengembangan agribisnis, karena fungsinya sebagai fasilitator yang menghubungkan antara deficit units (konsumen pengguna yang membutuhkan produk) dan surplus units (produsen vang menghasilkan produk).
·         Lembaga Riset, lembaga ini merupakan salah satu faktor penentu daya saing karma adanya keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif.

Sedangkan peran langsung dari pemerintah yang efisien meliputi, penerapan sertifikasi perbenihan dan pembudidayaan udang, penembangan laboratorium lingkungan dan penyakit, penyediaan saran dan prasarana budidaya, dan membantu pengutan permodalan bagi pembudi dayaan udang.

Cooperative Enterpreneur.
Dengan jumlah penduduk  lebih dari 220 juta jiwa, Indonesia merupakan potensi pasar domestik yang sangat besar, apalagi mengingat bahwa tingkat konsumsi ikan rata-rata per kapita masih sangat rendah dibandingkan dengan negara lain.  Disamping itu, melalui berbagai saluran yang ada, promosi dan lobi pemasaran harus ditingkatkan mengingat persaingan di pasar global terhadap produk  sejenis semakin ketat. Keikutsertaan pada pameran internasional dan promosi secara aktif ke negara-negara baru yang potensial untuk meningkatkan akses pasar merupakan langkah konkrit yang perlu untuk dilaksanakan. Disamping itu, peningkatan citra mutu produk Indonesia perlu secara terus menerus digaungkan dan dilaksanakan oleh semua pihak terkait. Hal ini mengingat bahwa persyaratan mutu dan sanitasi akan banyak dipakai sebagai hambatan non-tarif oleh negara-negara maju. Karena itu, cooperative enterpreneur antar sektor menjadi salah satu prasyarat yang perlu ditingkatkan.  Kemungkinan mengembangkan pemasaran melalui sistem future market dan pembentukan National Shrimp Board nampaknya perlu dikaji untuk kemungkinan penerapannya di lapangan.


  1. Subsistem yang berperan penting

Dari subsistem yang telah di jelaskan di atas peranan yang sangat penting pada agribisnis yang terjadi saat ini di indonesia yaitu “ Government as Support Sub System ” dimana pada tahapan ini peran aktif dari pemerintah dalam pengembangan agribisnis udang, khususnya di indonesia sangat di pengaruhi oleh peran langsung dari pemerintah guna membantu kelangsungan peningkatan mutu serta kualitas udang di indonesia agar udang di indonesia dapat diakui oleh inernasional. Sehingga ini berdampak langsung pada perolehan kas negara secara tidak langsungnya karna mampu mendongkrak devisa negara khususnya disektor non migas yaitu pada agribisnis udang.


  1. ANALISIS   SWOT.

Strenght
Besarnya potensi perekonomian khususnya di sektor perikanan dan kelautan ini mempunyai nilai yang cukup strategis bagi peningkatan devisa negara melaui kebijakan-kebijakan pembangunan yang mengarah pada pemanfaatan sumberdaya yang ada secara optimal, berwawasan lingkungan, berbasis pada prinsip ekonomi kerakyatan dan berkelanjutan
Usaha tambak udang memberika dampak positf terutama bagi masyarakat di sekitar tempat pembudidayaan. Dilihat dari sisi ekonomi usaha ini memberikan keuntungan yang berlipat apabila dibandingkan dengan bercocok tanam padi dan bagi pemilik lahan memberikan penghasilan dari usaha persewaan lahan non produktif. Akibat dari perlunya penyediaan kebutuhan untuk usaha antara lain penyediaan pakan,peralatan,obat-obatan dan pemasaran,muncul usaha lain yang mendukung usaha budidaya udang tersebut,misalnya toko atau kios pakan dan saprokan serta pedagang pengepul khusus untuk udang. Untuk memenuhi akan benih,di desa pertambakan telah berdiri pula suatu hatchery.

Weakness
Kelemahan dalam peningkatan agribisnis udang secara spesifik di Indonesia didominasi oleh munculnya isu-isu dan masalah secara musiman yang dapat melemahkan kegiatan bisnis udang.. Meskipun mengalami peningkatan dalam produksinya, Indonesia memiliki kendala dalam agribisnis udang diantaranya:

a.       Masalah sosial - terutama keamanan dan gejolak sosial,
b.      Finansial - terbatasnya modal usaha khususnya bagi para petambak kecil dan investasi dari luar negeri
c.       Belum diketahuinya sumber antibiotik secara pasti dalam pakan, perlakuan di kolam/tambak atau di tempat pengolahan
d.      Survival rate yang belum konsisten karena wabah white spot
e.       Rencana pemberlakuan anti-dumping oleh Amerika Serikat
f.       Isu antibiotik. Inovasi yang dilakukan dalam produksi meliputi penggunaan probiotik sebagai pengganti antibiotik, penggunaan "absorptive" mineral, sterilisasi lapisan kolam, penggunaan bio-filters dan adaptasi dalam "waste water treatment" serta water blending dan sterilisasi.
g.      Harga udang di pasar internasional yang sulit diramalkan

Sementara itu,Ketua Umum Shrimp Club Indonesia Iwan Sutanto mengakui meski ekspor udang dari Indonesia telah ditolak beberapa kali oleh Negara Eropa dan Jepang akibat mengandung antibiotic melebihi ambang batas,namun pemerintah belum mengambil tindakan. Sampai kini pemerintah belum melakukan pembinaan dan mentoring kepada petani udang agar tidak menggunakan antibiotic dan beberapa hal lainnya sesuai standarisasi yang diterapkan Eropa sejak 2004.
Kelemahan produsen produk pertanian khususnya petani adalah kurang sadarnya terhadap mutu, sehingga nilai produk agribisnis yang kini menjadi andalan kurang maksimal 

Opportunities
Peluang pengembangan udang diperkirakan akan terus membaik seiring dengan meningkatnya permintaan udang dipasaran internasional, baik disebabkan karena laju pertumbuhan penduduk, peningkatan pendapatan maupun pergeseran pola konsumsi,kebutuhan manusia akan makanan sehat (healthy food) serta rasa ketidak amanan manusia untuk mengkonsumsi daging ternak
Disisi lain peluang pasar udang masih terbuka luas baik di dalam maupun di luar negeri. Untuk pasar lokal, permintaan datang terutama dari wilayah yang banyak dikunjungi turis seperti Bali, Jakarta, Batam, dan Surabaya.
Sementara pasar udang di luar negeri telah terbentuk diJepang, Korea, Singapura, Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Belanda, Australia dengan pasokan utama datang dari Thailand,Cina, dan India, untuk itu akan sangat memungkinkan bagi Indonesia untuk terjun kedalam pasar udang yang telah terbentuk di Negara-negara konsumsi udang tersebut..

Threath
Perdagangan ekspor komoditi perikanan cenderung semakin kompetitif. Disamping itu, ekspor komoditi perikanan juga dihadapkan pada berbagai hambatan tarif, food safety, issu lingkungan dan lain-lain. Sedangkan hambatan lainnya berkaitan dengan persyaratan mutu dan sanitasi dan gencarnya kampanye anti udang tambak oleh GAA (Global Aquaculture Alliance) dengan anggapan merusak hutan bakau dan kelestarian lingkungan. Untuk itu produksi perikanan budidaya perlu menerapkan system jaminan mutu/food safety (HACCP) yang diwajibkan oleh CAC/FAO/WHO (Codex Alimentarius Commission) dan negara-negara importir. Disamping itu setiap pembuat tambak udang selalu mengikuti kaidah-kaidah AMDAL.
Selain itu Sedikitnya 300.000 ton udang ekspor asal Indonesia terancam ditolak Negara tujuan yakni Amerika Serikat dan Uni Eropa,karena tidak memenuhi standar kualitas internasional. Hal ini lah yang menjadi ancaman tersendiri pada agribisnis udang yang terjadi di indonesia.

Segmentasi Pasar.
Proses melayani pasar secara lebih terarah diawali dengan melakukan segmentasi pasar, menurut Handito, ada beberapa cara dalam menentukan segmentasi pasar dalam pemasaran udang di Indonesia, faktor-faktor tersebut meliputi:
  • Berdasarkan faktor demografi atau kependudukan, seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status perkawinan, dan jumlah anggota keluarga.
  • Berdasarkan faktor geografi atau tempat tinggal konsumen.
  • Berdasarkan faktor psikografi atau reaksi konsumen terhadap perubahan pasar, seperti perubahan kualitas atau harga.
  • Berdasarkan perilaku konsumen.


  1. Bauran Pemasaran

Bauran pemasaran udang yang terjadi di indonesia terdiri atas:
1)      Produk (product).
Udang di indonesia memiliki banyak potensi untuk dipasarkan, baik itu di pasar dalam negeri maupun untuk dipasar kan ke luar negeri. Walupun pada saat ini sedang marak kasus antibiotic pada udang, tetapi udang Indonesia masih mampu bersaing di pentas ekspor dunia.
2)      Harga (price).
Walaupun volume udang yang dipasok di indonesia terus meningkat, sementara penambahan konsumsi udang dunia cenderung tetap, sehingga harga udang cenderung turun. Maka perlunya dilakukan penentuan harga yang tetap menurut standarisasi internasional agar harga udang di dunia cendrung stabil.
3)      Distribusi (place).
Indonesia bersama dengan negara-negara produsen udang di ASEAN yang tergabung dalam ASEAN Shrimp Alliance (ASA) bersepakat untuk meningkatkan daya saing dan mempertahankan diri sebagai produsen mayoritas udang dunia. ”Negara ASEAN sepakat untuk bersama-sama memperluas pasar udang sehingga mendorong nilai ekspor,” Achmad Poernomo.
Hal ini tentunya sangat menguntungkan bagi Negara-negara produsen udang, khususnya Indonesia, karena Pendistribusian udang ke pasar dunia tidak lagi melalui saluran yang cukup panjang dan komplek dan menyulitkan.
4)      promosi (promotion).
Produksi udang Indonesia sampai saat ini masih tetap diorientasikan ke pasar internasional, dengan negara-negara tujuan ekspor Jepang, USA, dan uni eropa. Namun akhir-akhir ini volume ekspor udang Indonesia mengalami penurunan. Turunnya ekspor udang Indonesia tersebut dapat diakibatkan oleh turunnya penawaran udang domestik dan  juga turunnya ekspor udang Indonesia ke Negara-negara tujuan ekspor utama. Turunnya volume ekspor udang domestik ini dimungkinkan akibat pengaruh eksternal seperti turunnya harga udang dunia  ataupun pengaruh internal di Indonesia akibat dari kebijakan makro ekonomi Indonesia yang kurang mendukung, seperti tingkat bunga yang selalu meningkat. Maka dari itu perlunya bauran pemasaran khususnya untuk promosi, dimana tingkat konsumsi udang Indonesia untuk Negara-negara seperti Jepang, USA dan lain-lain masih memiliki daya tampung yang besar dan Konsumsi udang rata-rata di negara maju masih sangat rendah sehingga perlu langkah-langkah untuk menggalakkan promosi, walaupun dalam beberapa tahun ini masih marak kasus anti dumping serta pemakaian antibiotic yang berlebihan pada udang, namun Indonesia tidak terkana dampak dampak yang signifikan, maka dari itu perlu dilakukan promosi besar-besaran untuk udang Indonesia yang tidak memakai antibiotic serta mempunyai size dan kualitas udang yang dapat diunggulkan dipasaran dunia bahkan domestic sekalipun.

9.      Potensi Ekspor Komoditi

Potensi ekspor yang sangat besar menjadikan peluang yang besar dalam pengembangan budidaya udang di Indonesia. Namun demikian, tantangan yang dihadapi dalam pengembangan budidaya udang ini juga tidak kalah besarnya. Hal ini menuntut upaya berbagai pihak, baik Pemerintah, Pembudidaya, Swasta maupun Stakeholder lainnya untuk bersama-sama menanggulangi tantangan tersebut, agar potensi ekspor udang yang sangat besar tersebut tidak hanya menjadi peluang, tetapi secara nyata dapat dimanfaatkan dan dikelola secara baik untuk meningkatkan konstribusinya dalam pembangunan nasional.
Ditetapkannya udang salah satu komoditas yang harus ditingkatkan produksinya cukup beralasan,karena udang merupakan primadona ekspor hasil perikanan Indonesia yang budi dayanya telah terbukti memiliki backward dan forward lingkage yang cukup luas bagi aktivitas ekonomi masyarakat. Menurutnya aktivitas usaha budi daya udang di beberapa sentra produksi beberapa tahun terakhir ini,telah membawa dampak yang cukup signifikan bagi menurunnya pertumbuhan ekonomi masyarakat di beberap kawasan budidaya tersebut. Sebagai komoditas ekspor,udang masih memperlihatkan penampilan yang mengembirakan.

Tabel 1. Sepuluh Besar Negara Tujuan Ekspor Udang Indonesia sejak Tahun 2000
No.
Negara
Volume Ekspor
(Ton)
1
Jepang
54.064
2
Amerika Serikat
16.216
3
Hongkong
7.164
4
Belanda
6.900
5
Singapura
6.572
6
Malaysia
5.236
7
Inggris
4.218
8
Taiwan
2.623
9
RRC
2.223
10
Belgia & Luxemburg
2.011
Sumber : Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya
Departemen Kelautan & Perikanan,

Dalam program ekspor hasil perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan menetapkan target ekspor udang sebesar USD 6,78 milyar. Untuk mencapai target nilai ekspor tersebut, produksi udang harus mencapai 6,06 juta ton dimana 1,11 juta ton (18,3%) dari perikanan budidaya yaitu hasil perikanan yang tidak diperoleh dari penangkapan. Untuk memenuhi target tersebut, udang mempunyai potensi untuk dijadikan komoditi ekspor karena perdagangan udang telah meluas di dunia, harganya cukup tinggi dan permintaannya dari tahun ke tahun diperkirakan semakin meningkat.

Pesaing Pasar Ekspor.
Sebetulnya kalangan petambak udang sangat sadar bahwa Indonesia bukan satu-satunya negara pembudidaya udang di dunia. Banyak negara yang menggiatkan usaha tersebut, seperti Thailand, Filipina, China, India, Vietnam, Brasil, Ekuador, dan Meksiko. Bahkan, negara-negara itu mengembangkan sistem teknologi canggih sehingga volume produksi pun tinggi. Di Thailand, misalnya, produksi udang tiap tahun rata-rata enam ton per hektar.
Maka dari itu saat ini telah ada 50 negara penghasil udang di dunia antara lain Negara produsen terbesar adalah China, Thailand, Vietnam, dan Ekuador. Mereka pesaing utama Indonesia. Dalam jumlah yang relative kecil,komoditi ini juga diproduksi di India, Costa Rika, Brazil, dan Malaysia, Banglades, Taiwan.

10. Atribut Kualitas Komoditi.

Sejak tahun 2004 lalu,Uni Eropa mulai menerapkan standarisasi kualitas udang yang ketat. Diantaranya harus bebas dari antibiotic atau zat chlorampenicol,sehingga udang yang diketahui mengandung antibiotic akan ditolak Negara tujuan ekspor. Selain bebas dari antibiotic,masalah dampak kerusakan lingkungan dan kesinambungan produksi juga harus memenuhi standar yang ditetapkan UE. Sayangnya,menurut Iwan, meski peraturan UE itu sudah dikeluarkan sejak tahun 2004,namun hingga saat ini aturan tersebut kurang disosialisasikan ke para pengusaha udang Indonesia, khususnya yang tetgabung dalam SCI. Untuk menerapkan pembudidayaan udang seperti yang dipersyaratkan UE tidaklah mudah. Butuh dukungan dan kerja sama dari semua pihak. Dari semua persyaratan yang diminta, yang paling berat untuk dilakukan adalah mengenai lingkungan dan HAM pekerja. Termasuk mengenai tempat tinggal pekerja dan pembuangan limbahnya. Sedangkan untuk kandungan antibiotic dapat diatasi dengan tidak menggunakan bahan antibiotic dalam pembudidayaan.

11.  Lembaga pembiayaan yang mendukung Agribisnis Udang di Indonesia.

Keberhasilan maupun keterpurukan agribisnis Indonesia bukan merupakan karya satu atau dua pihak/instansi saja, melainkan keseluruhan komponen penunjang ekonomi bangsa, termasuk di dalamnya budaya (etos kerja, rasa kebersamaan/nasionalisme, dll). Kebangkitan agribisnis terutama dalam menghadapi persaingan global baik di pasar dalam negeri, terlebih lagi di pasar luar negeri, memerlukan kerjasama yang erat bahu-membahu berbagai pihak yang menyatu dalam “Indonesia incorporated”. Konsep Indonesia Incorporated merujuk pada keberpihakan berbagai pihak pada pihak-pihak yang mendapatkan kesulitan atau ancaman serta tantangan persaingan bisnis dari luar negeri. Artinya permasalahan di sektor agribisnis, misalnya, pemecahannya haruslah mendapatkan dukungan dari sektor-sektor ekonomi lainnya. Misalnya adanya kuota atau pelarangan masuk komoditas tertentu di suatu negara mungkin dapat diatasi dengan mempertimbangkan impor komoditas lain dari negara tersebut.
Salah satu komponen penunjang ekonomi ini dari segi investasi agribisnis yang mulai brkembang di Indonesia adalah Lembaga Pembiayaan Pembiayaan merupakan urat nadi usaha. Pembiayaan diperlukan di semua sektor, baik hulu maupun hilir, mulai dari produsen primer yang menyediakan input-input produksi seperti benih udang yang baik, antibiotik hingga agroindustri di hilir beserta lembaga-lembaga distribusi.
Permasalahan umum yang dihadapi dalam kaitan dengan lembaga pembiayaan ini adalah pagu kredit, agunan, suku bunga, proses yang rumit, dan berbagai persyaratan formal lain yang menyertainya. Tanpa adanya terobosan sektor pembiayaan sulit bagi pelaku agribisnis terutama petani kecil dan bisnis informal sulit berkembang. Salah satu bantuan pembiayaan untuk pengembangan agribisnis udang di Indonesia adalah melalui Pola kemitraan.
Pola kemitraan pada dasarnya merupakan bentuk kerjasama usaha yang saling menguntungkan antara pemilik modal/perusahaan dengan beberapa individu/kelompok dalam menjalankan suatu kegiatan tertentu yang bersifat ?profit oriented?. Pola kerja sama tersebut lebih dikenal dengan istilah Perusahaan Inti Rakyat (PIR), dimana secara garis kemitraan pemilik/perusahaan modal disebut dengan inti dan individu/kelompok penerima bantuan modal disebut dengan plasma. Pola kemitraan ini merupakan salah satu bentuk pengembangan wilayah melalui pembangunan ekonomi lokal yang berbasis pada ekonomi kerakyatan yang pelaksanaannya lebih ditekankan pada pembangunan yang berpihak pada rakyat. Bantuan yang diberikan lebih diarahkan pada penyaluran kredit usaha dan kredit modal kerja yang dari pemerintah kepada individu/kelompok melalui perusahaan dan cara pengembalianya melalui sistem bagi hasil yang diperoleh dari keuntungan usaha yang dijalankan berdasarkan ketentuan-ketentuan yang telah disepakati bersama.
Penerapan pola kemitraan didalam pengembangan tambak udang merupakan salah satu wujud kebijakan pemerintah sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan memanfaatkan sumberdaya manusia dan alam (pesisir) serta financial yang ada dan selaras dengan program ekonomi kerakyatan. Komponen yang bertindak sebagai inti adalah perusahaan atau pengusaha yang kuat dalam permodalan, sedangkan plasma terdiri dari kelompok petambak yang mempunyai kemampuan teknis budidaya tetapi lemah/kurang dalam permodalan.
Bantuan yang diberikan oleh pihak inti berupa pemberian kredit yang didapat dari pemerintah dengan pihak plasma sebagai agunan, sedangkan sistem pengembalian kredit tersebut dilakukan melalui bagi hasil dari keuntungan yang diperoleh plasma dari kegiatan budidayanya. Kredit yang diberikan dari pihak inti meliputi kredit modal usaha yang mencakup kepemilikan lahan tambak dan pemukiman beserta dengan fasilitas penunjangnya, serta kredit modal kerja yang berupa permodalan yang diperlukan untuk melaksanakan proses kegiatan budidaya (benur, saprodi, panen serta sarana penunjang lainnya). Sistem perkreditan yang dilakukan tersebut dijalankan melalui kesepakatan yang telah disetujui oleh pihak inti dan plasma yang dituangkan dalam surat perjanjian.
Faktor utama yang perlu diperhatikan adalah transparansi dalam melaksanakan sistem perkreditan, terutama akuntabilitas perkembangan nilai kredit dari pihak plasma berdasarkan periode budidaya. Pemberian informasi tersebut sangat diperlukan untuk menjaga keharmonisan dan tidak menimbulkan krisis kepercayaan antara kedua belah pihak yang pada akhirnya dapat menimbulkan konflik dalam kegiatan pengembangan tambak udang.
Selain sistem perkreditan tersebut diatas, konsep kerja sama pola kemitraan juga membutuhkan suatu kesepakatan kerja antara pihak inti dengan plasma sebagai upaya membentuk sistem kerja dalam menjalankan kegiatan budidaya di wilayah pengembangan tambak udang. Secara garis besar dilihat dari struktural dan fungsional antara inti dan plasma merupakan mitra (partner) kerja, sehingga memerlukan garis pembatas yang jelas dalam mengatur hubungan kerja agar tidak terjadi ?overlapping? mengenai hak dan kewajibannya masing-masing. Sistem kerja yang dimaksud biasanya meliputi, antara lain :
  1. Kualifikasi dan persyaratan.
  2. Hak dan kewajiban
  3. Hirarki struktural dan fungsional
  4. Penghargaan dan sanksi
  5. Pemutusan hubungan kemitraan
  6. dsb
            Sistem kerja diatas juga harus melalui kesepakatan bersama antara inti dan plasma agar dalam kegiatan pengembangan tambak udang dengan pola kemitraan dapat berjalan selaras/harmonis pada suasana yang kondusif yang sangat dibutuhkan dalam kelancaran proses kegiatan budidaya.

Contoh kasus pembiayaan agribisnis udang di Indonesia :

Ø  BRI Kucurkan Pembiayaan Kredit Kepada Petambak Udang
Fasilitas pinjaman yang akan diberikan kepada petambak udang secara signifikan adalah sebagai modal untuk melakukan proses budidaya. Dalam hal ini pihak Bank bertindak sebagai mitra perusahaan untuk menjembatani dalam proses pendanaan, dimana BRI bersama-sama dengan Inti mempunyai tujuan yang sama, untuk dapat mempercepat pertumbuhan kesejahteraan petambak. Disisi lain, keberadaan BRI sebagai pihak ketiga juga akan mampu memberikan kontrol secara obyektif dalam penggunaan dana tersebut guna menjamin produktifitas yang transparan bagi petambak udang.

Ø  Bank Niaga Syariah (BNS)
Bank Niaga Syariah (BNS) bekerjasama dengan PT Central Proteinaprima Tbk kembali menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 30 miliar kepada 210 petani tambak udang binaan PT Aruna Wijaya Sakti (AWS) di desa Bumi Dipasena Kecamatan Rawa Jitu Timur, kabupaten Tulang Bawang, Lampung
BNS sebelumnya telah menyalurkan pembiayaan kepada 1.000 petani tambak udang binaan PT Central Pertiwi Bahari (CPB) di desa Adiwarna, kecamatan Gedung Meneng Kabupaten Tulang Bawang, Lampung dengan plafon kredit sebesar Rp 160 miliar, yang direalisasikan pada bulan Desember 2007. Pembiayaan ini digunakan untuk kebutuhan produksi bagi para petani tambak udang.
Pembiayaan tersebut menggunakan pola channeling yakni petani tambak udang bertindak sebagai debitor, dan akad syariah yang digunakan adalah Akad Murabahah (jual beli) . Sedangkan dengan perusahaan inti (PT CPB dan PT AWS) yang bertindak sebagai wakil dari BNS, untuk melakukan pengawasan, pembinaan dan mengkoordinir seluruh petani tambak udang dalam membudidayakan udang secara teknis maupun non teknis, menggunakan akad syariah yaitu akad wakalah.
PT Central Proteinprima Tbk memiliki fokus usaha pada bidang pembibitan udang, produksi pakan udang, tambak udang dan pengelolaan hasil budidaya udang. Adapun luas areal tanah yang dimiliki PT CPB dan PT AWS adalah sekitar 41.250 ha. Sementara kedua inti tersebut di atas memiliki hampir 18.000 lebih tambak udang. Dengan luas tanah dan jumlah tambak yang besar tersebut, merupakan potensi yang besar bagi BNS untuk membantu pengembangan bisnis ini dari sisi pembiayaan.










































KESIMPULAN

Udang indonesia merupakan penghasil devisa negara yang cukup besar dari sektor non migas, maka dari itu pengembangan produktivitas udang seharusnya mengalami peningkatan yang signifikan, apalagi ditinjau dari segi konsumsi dunia, tingkat konsumsi udang selalu meningkat setiap tahunnya.
Hal ini seharusnya menjadi motivator untuk pemerintah agar mampu mensuport kegiatan-kegiatan dalam produktivitas udang di indonesia, dimana peran aktif dari pemerintah sangat dibutuhkan saat ini guna pencapaian mutu, saize, kualitas serta kuantitas udang agar udang indonesia mampu bersaing dengan udang dari negara-negara produsen lainnya.
            Dilihat dari segi pembiayaan pemerintah dan pihak-pihak swasta telah memberikan solusi bagi petambak udang yang terkendala dalam finansial untuk pengembangan budidaya udang dengan memberi bantuan-bantuan berupa bantuan keuangan dan pengadaan alat-alat pembudidayaan.


































DAFTAR PUSTAKA
        

ANONIM 2005 ; Revitalisasi Budidaya Udang.  Koswara, Prof. Dr. Bachrulhajat,
Jakarta.

Balai Pengembangan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan, 1999. Monitoring Sanitasi Kekerangan. BPPMHP, Direktorat Jenderal Perikanan, Jakarta.

Direktorat Jenderal Perikanan, 1995. Promosi Peluang Usaha Di Bidang Perikanan. Direktorat Jenderal Perikanan. Jakarta.

Direktorat Jenderal Perikanan, 2000. Statistik Produksi Perikanan Indonesia tahun 1998. Direktorat Jenderal Perikanan. Jakarta.

Direktorat Jenderal Perikanan, 2000. Statistik Ekspor Perikanan Indonesia tahun 1998. Direktorat Jenderal Perikanan. Jakarta.

Wibowo, Ir.Sigit. Pemeliharaan Udang di Air Tawar,1986;PT. Waca Utama
Pramesti,Jakarta.

Mudjiman L., Budidaya Udang Windu, 1987; Penebar Swadaya, Jakarta.

Webside : http/:www.google.com

Laporan Dirjen. PK2P kepada Menteri Dep. KP, tgl 24 Des 2003

www.korantempo.com/news/2004/9/9/Ekonomi%20dan%20Bisnis/19.html - 22k -                                

www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2006/02/10/brk,20060210-73738,id.html - 29k

www.sinarharapan.co.id/berita/0608/23/ipt02.html - 25k

www2.kompas.com/kompas-cetak/0406/07/ekonomi/1062187.htm - 47k –


www.adln.lib.unair.ac.id/go.php?id=jiptunair-gdl-res-1999-irawan2c-324-cytisine&PHPSESSID=dd2cc1da310... - 24k

Tidak ada komentar: