Senin, 02 Januari 2012

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN TERNAK


1.  Pengertian Pertumbuhan 

            Istilah pertumbuhan mempunyai banyak definisi.  Definisi pertumbuhan yang paling sederhana adalah perubahan ukuran yang meliputi perubahan berat hidup, bentuk, dimensi linear dan komposisi tubuh, termasuk perubahan komponen-komponen kimia, terutama air, lemak, protein dan abu pada karkas.  Perubahan organ-organ dan jaringan berlangsung secara gradual hingga tercapainya ukuran dan bentuk karakteristik masing-masing organ dan jaringan.  Pertumbuhan prenatal merupakan pertumbuhan organ atau hewan selama dalam kandungan atau sebelum hewan dilahirkan, sedangkan pertumbuhan postnatal adalah pertumbuhan hewan setelah dilahirkan.
            Pertumbuhan seekor ternak merupakan kumpulan dari pertumbuhan bagian-bagian komponennya.  Pertumbuhan komponen-komponen tersebut berlangsung dengan kadar laju yang berbeda, sehingga perubahan ukuran komponen menghasilkan diferensiasi atau pembedaan karakteristik individual sel dan organ.  Diferensiasi menghasilkan perbedaan morfologis atau kimiawi, misalnya perubahan sel-sel embrio menjadi sel-sel otot, tulang, hati, jantung, ginjal, otak, saluran pencernaan, organ reproduksi dan alat pernafasan.

            Definisi   pertumbuhan dari beberapa ahli dapat diketahui sebagai berikut :

  1. “ School” (1911) à  Pertumbuhan merupakan peningkatan masa tubuh dalam rentang waktu tertentu pada spesies tertentu.
  2. “Brody” (1945) à Pertumbuhan merupakan intensitas biologis yang mendapatkan satuan-satuan biokimia baru seperti pembentukan daging, tulang dan lain-lain.
  3. “Hafez” (1969) à Pertumbuhan menggambarkan banyak fenomena biologis seperti pertumbuhan populasi yang meliputi reproduksi ternak, pertumbuhan tubuh yang meliputi penggandaan sel (hiperplasia), peningkatan ukuran sel (hipertropi) dan peningkatan struktur material non selular.
  4. “Forrest , dkk.” (1975).  Pertumbuhan adalah suatu proses yang normal dari meningkatnya ukuran dan konsistensi jaringan asal.
  5. “Ensminger” (1960) à Pertumbuhan sebagai pertambahan atau perkembangan oleh tulang, organ-organ dalam dan bagian tubuh lainnya.  Proses tersebut berjalan cepat pada hewan yang masih muda, yang setelah dewasa mengalami kelambatan.  Waktu muda merupakan pertumbuhan positif dan setelah tua pertumbuhan negatif.

            Pertumbuhan dapat terjadi dengan penambahan jumlah sel yang disebut dengan hyperplasia dan dapat pula dengan penambahan ukuran sel, yang disebut hypertrophy.  Terjadi dua hal dasar pada pertumbuhan hewan, yaitu pertambahan bobot badan yang disebut pertumbuhan dan perubahan bentuk yang disebut perkembangan.           
Pertumbuhan termasuk proses biologis, karena pertumbuhan merupakan salah satu ciri dasar makhluk hidup.  Begitu kompleksnya fenomena pertumbuhan sehingga kadang-kadang sulit untuk menetapkan terminologi yang pasti tentang apa itu pertumbuhan.  Fenomena-fenomena biologis  yang terlibat dalam pertumbuhan antara lain :
  1. Reproduksi
  2. Perubahan dimensi
  3. Peningkatan ukuran linear
  4. Penambahan bobot/masa

Studi tentang pertumbuhan meliputi :
  1. Konsep tentang pertumbuhan
  2. Masalah genetik dari pertumbuhan
  3. Dasar-dasar metabolisme pertumbuhan
  4. Dimensi Lingkungan
Studi tentang pertumbuhan ini menjadi menarik setelah fenomena biologis ini dimanfaatkan oleh manusia pada berbagai bidang usaha dan ilmu pengetahuan, seperti peternakan, kedokteran, vateriner, biologi dan lain-lain.
            Menurut para ahli nutrisi, pertumbuhan merupakan perubahan masa tubuh.  Ada yang mengemukakan bahwa pertumbuhan tidak  identik dengan pertambahan masa tubuh dan tidak identik dengan penambahan daging.  Tapi memang proses pertumbuhan berkaitan dengan berbagai produk yang dapat dinyatakan dengan masa seperti : masa daging, woll, ataupun perubahan lainnya seperti lingkar dada, panjang badan dan lain-lain.   Secara biologis, pertumbuhan berkaitan dengan waktu (time independent).  Dalam praktek peternakan pertumbuhan berkaitan dengan perubahan masa sebagai hasil suatu management ataupun tata laksana.

2.  Pertumbuhan Merupakan Fungsi dari Waktu

Pada tahapan pertumbuhan secara biologis dikenal beberapa proses yaitu :
    1. Anak-anak (suvenil)
    2. Kedewasaan (maturity)
    3. Penuaan (aging)
    4. Pikun (Senescens)
Semua proses ini berkaitan dengan waktu, sehingga dalam studi lebih lanjut dikenal adanya :
  1. Umur kronologis
  2. Umur fisiologis

Dalam memberikan batasan pertumbuhan perlu diingat bahwa pertumbuhan merupakan fenomena fisiologis tertentu pada keadaan tertentu pula.  Dalam lingkup genetika lingkungan, pengertian masak dini (early maturity) berkaitan dengan masalah genetika.  Sedangkan dalam lingkup lingkungan pakan pengertian masak dini ataupun masak lambat (late maturity) berkaitan dengan cukup tidaknya pakan tersedia.  Bisa saja terjadi, hewan yang kecukupan pakan menjadi cepat dewasa dalam waktu singkat sementara hewan serupa yang kurang pakan baru mencapai kedewasaan misalnya setelah tiga tahun.  Dari gambaran tersebut di atas terlihat bahwa pertumbuhan itu secara biologis bergantung kepada waktu (time dependent).
Namun demikian pertumbuhan tidak selalu didasarkan pada unit waktu, karena sebetulnya pertumbuhan bisa menyangkut dengan waktu kronologis maupun waktu fisiologis.  Pengertian dewasa juga dapat berarti dewasa kronologis ataupun dewasa fungsional.  Pertumbuhan meliputi pengertian pertumbuhan struktural dan pertumbuhan fungsional.  Secara kronologis, seorang anak berumur 17 tahun sudah dapat dikatakan dewasa.  Akan tetapi bisa saja dalam umur tersebut si anak sudah dewasa kelamin.  Pada kondisi ini dapat dikatakan si anak telah dewasa, baik secara kronologis maupun secara fisiologis.  Dapat juga terjadi pada umur tersebut anak tersebut masih kekanak-kanakan (infantil) yang berarti belum dewasa fungsional sekalipun yang bersangkutan telah dewasa kronologis.
Jadi umur kronologis adalah umur yang berkaitan perubahan dari waktu ke waktu.  Sedangkan umur fisiologis didasarkan atas kemampuan fungsional, seperti dewasa tubuh, dewasa kelamin dan lain-lain.  Semua proses ini berkaitan dengan waktu.  Kanker merupakan contoh pertumbuhan yang tidak terkendali, sebaliknya kekerdilan merupakan contoh pertumbuhan yang mengalami hambatan. Kultur jaringan, fermentasi, peragian, studi daur hidup serangga dan lain-lain merupakan aktivitas biologis atau studi yang memerlukan referensi pertumbuhan.  Pada peternakan ada istilah otot ganda (double muscle) pada ternak sapi merupakan manipulasi pertumbuhan yang salah.           
Terjadi 2 hal dasar dalam pertumbuhan yaitu :
  1. Pertambahan bobot badan yang disebut dengan pertumbuhan.
  2. Perubahan bentuk yang disebut dengan perkembangan.
            Perubahan komponen-komponen tubuh ternak  berlangsung dengan laju/kecepatan yang berbeda.  Perubahan ukuran komponen menghasilkan  perubahan karakteristik individual sel dan organ.

3.  Aspek Pertumbuhan dan Perkembangan Pada Ternak

            Kecepatan pertumbuhan relatif berbagai komponen tubuh ternak berbeda satu dengan yang lainnya.  Hal ini menghasilkan berbagai komposisi tubuh ternak pada berbagai fase pertumbuhan dan berbagai keadaan lingkungan.  Pertumbuhan jaringan tubuh pada ternak daging dibedakan atas 3 tingkatan diantaranya adalah :
  1. Pertumbuhan tulang dan organ lain.
  2. Pertumbuhan jaringan otot.
  3. Pertambahan bobot karena penimbunan lemak.

      Proses penuaan berkaitan dengan proses metabolik dalam pembentukan kolagen.  Berdasarkan laju pertumbuhan maksimumnya, yang didasarkan atas umur, urutan tumbuh jaringan tubuh adalah :
  1. Syaraf
  2. Tulang
  3. Otot
  4. Jaringan lemak
Lemak menumpuk pada berbagai depot lemak dengan kecepatan yang berbeda, dengan urutan :
  1. Lemak mesentium
  2. Lemak ginjal
  3. Lemak intermusculer
  4. Lemak subcutan
  5. Lemak intramusculer

4.  Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan

            Diantara individu di dalam suatu bangsa atau diantara bangsa ternak terdapat perbedaan respons terhadap pengaruh lingkungan seperti nutrisional, fisis dan mikrobiologis.  Perbedaan respon ini menyebabkan adanya perbedaan kadar laju pertumbuhan.  Faktor jenis kelamin, hormon dan kastrasi serta genotipe juga mempengaruhi pertumbuhan.  Jenis, komposisi kimia dan konsumsi pakan mempunyai pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan.  Konsumsi protein dan energi yang lebih tinggi akan menghasilkan laju pertumbuhan yang lebih cepat.  Pengaruh nutrisi akan lebih besar bila perlakuannya dimulai sejak awal periode pertumbuhan.  Jadi pertumbuhan ternak dapat dimanipulasi dengan perlakuan nutrisi yang berbeda.
            Genotipe ternak juga mempengaruhi laju pertumbuhan.  Perbedaan laju pertumbuhan di antara bangsa dan individu ternak di dalam suatu bangsa, terutama disebabkan oleh perbedaan ukuran tubuh dewasa.  Bangsa ternak yang besar akan lahir lebih berat, tumbuh lebih cepat dan lebih berat pada saat mencapai kedewasaan daripada bangsa ternak yang kecil.
            Jenis kelamin dapat juga menyebabkan perbedaan laju pertumbuhan.  Dibandingkan dengan ternak betina, ternak jantan biasanya tumbuh lebih cepat, dan pada umur yang sama lebih berat.  Perbedaan laju pertumbuhan antar kedua jenis kelamin tersebut dapat menjadi lebih besar sesuai dengan bertambahnya umur.  Steroid kelamin terlibat dalam pengaturan pertumbuhan dan terutama bertanggung jawab atas perbedaan komposisi tubuh antara jenis kelamin jantan dan betina.

5.  Hormon dan Pertumbuhan

            Pertumbuhan ternak diatur oleh hormon, baik secara langsung maupun tidak langsung.  Ada perbedaan-perbedaan di antara bangsa ternak mengenai pengaruh hormon, misalnya pengaruh hormon pertumbuhan, insulin dan tiroksin.  Steroid kelamin juga mempunyai peranan penting dalam pengaturan pertumbuhan, terutama pengaruhnya terhadap perbedaan-perbedaan komposisi-konposisi tubuh di antara jenis kelamin ternak.  Hormon dapat mengubah reaksi biokimia yang berkaitan dengan proses pertumbuhan dan perkembangan komponen tubuh.
            Hormon yang mempengaruhi pertumbuhan dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu: (1) kelompok anabolik, dan (2) kelompok katabolik.  STH ( Somatotropic hormone) atau somatotropin atau GH (Growth hormone), testosteron dan tiroksin termasuk hormon yang mempunyai pengaruh anabolik, sedangkan estrogen termasuk hormon katabolik.  Hormon yang mempunyai pengaruh langsung terhadap pertumbuhan, antara lain adalah somatotropin, tiroksin, androgen, estrogen dan glukokortikoid (GC).  Hormon-hormon tersebut mempengaruhi pertumbuhan masa tubuh, termasuk pertumbuhan tulang dan metabolisme nitrogen.
            Somatotropin berasal dari kelenjar pituitari bagian anterior, dan mempunyai fungsi mengatur pertumbuhan normal ternak muda serta metabolisme normal pada ternak dewasa.  Sekresi STH diatur oleh faktor pembebas STH dari hipotalamus.  STH mengatur pertumbuhan kerangka, yaitu menstimulasi pertumbuhan plat epipiseal tulang panjang.  STH menstimulasi sintesis protein dengan meningkatkan kemampuan ribosom untuk menginkorporasikan asam-asam amino menjadi protein.
            STH meningkatkan berat badan, konversi pakan dan produksi daging ternak pedaging.  Pada babi, STH plasma menurun sesuai dengan umur.  Pada domba, aktivitas STH memuncak pada saat lahir dan kemudian menurun.  Steroid anabolik seperti dietil stilbesterol diduga mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan ternak ruminansia dengan menstimulasi peningkatan sekresi STH.  Bangsa sapi yang pertumbuhan awalnya cepat dan ukuran dewasanya besar, mensekresi STH dalam jumlah yang relatif lebih besar daripada bangsa sapi yang pertumbuhan awalnya lambat dan ukuran dewasanya kecil.  STH secara tidak langsung mempengaruhi penggunaan lipid untuk kebutuhan energi dan pemeliharaan sintesis protein esensial pada kondisi yang kurang menguntungkan.  Pembebasan STH dihambat oleh suatu peptida yang disebut somatostatin.  Di dalam otot skeleral, somatostatin ini mungkin mempunyai peranan sebagai pengatur metabolisme alanin dan glutamin.
            Androgen adalah suatu hormon kelamin yang termasuk sebagai hormon pengatur atau stimulan pertumbuhan.  Androgen dihasilkan oleh sel-sel interstisial dan kelenjar adrenal.  Salah satu steroid androgen adalah testosteron yang dihasilkan oleh testes.  Sekresi testosteron yang tinggi menyebabkan sekresi androgen yang tinggi pula.  Hormon kelamin jantan ini menyebabkan pertumbuhan yang lebih cepat pada ternak jantan dibandingkan  denga ternak betina, terutama setelah munculnya sifat-sifat kelamin sekunder pada ternak jantan.  Seperti halnya STH, androgen juga menstimulasi sintesis protein terutama di dalam otot, dan penurunan kandungan lemak tubuh, sehingga dampak kedua macam hormon tersebut masih sulit diinterpretasikan.
            Kepentingan STH sebagai stimulan pertumbuhan dipengaruhi oleh somatomedin.  Somatomedin adalah keseluruhan keluarga polipeptida yang tergantung pada STH dengan properti seperti insulin.  Level yang tinggi dari salah satu somatomedin mempunyai dampak negatif terhadap produksi STH, yaitu meningkatkan pengaruh negatif somatostatin terhadap produksi STH.  Insulin juga menstimulasi sintesis protein seperti halnya STH dan androgen, yaitu dengan aktivitasnya terhadap level rantai peptida.  Insulin dapat dibedakan dari somatomedin dengan serum anti insulin.  Somatomedin tidak diblokade oleh serum anti insulin.  Konsentrasi insulin yang lebih tinggi dari normal di dalam darah akan menstimulasi diferensiasi mioblast, seolah-olah insulin bertindak analog dengan somatomedin.
            Insulin mempunyai pengaruh langsung terhadap masukan glukosa ke dalam sel-sel otot dan menstimulasi enzim sintetase glikogen yang bertanggung jawab terhadap konversi glukosa-6-fosfat menjadi glikogen.  Insulin juga mencegah pemecahan glikogen (glikogenolisis) hati dan otot yang berlebihan.  Jadi insulin mempunyai aksi hipoglisemik, yaitu menurunkan glukosa darah.  Insulin menstimulasi lipogenesis dengan cara mempromosikan masukan dan pemanfaatan glukosa oleh jaringan adipose dan dengan cara mencegah lipolisis.  Stimulus utama untuk membebaskan insulin adalah konsentrasi glukosa plasma.
            Glukagon dan adrenalin bekerja bertentangan dengan insulin, yaitu mempengaruhi enzim fosfatase glikogen dan sintetase melalui reaksi-reaksi yang kompleks.  Kerja STH dan insulin sebagai stimulan masukan asam-asam amino ke dalam sel-sel, dihambat oleh glukokortikoid, misalnya hidrokortison.  STH dan insulin menstimulasi enzim-enzim yang bertanggung jawab terhadap sintesis protein, sementara glukokortikoid bekerja sebaliknya.  Insulin menstimulasi enzim sintetase trigliserida  yang mengkatalisis konversi gliserol dan asam lemak bebas menjadi lemak di dalam jaringan adipose.  Glukagon, adrenalin dan glukokortikoid mengaktifkan enzim lipase trigliserida yang membebaskan asam-asam lemak bebas dan gliserol dari lemak.  Konsentrasi glukosa darah diatur oleh keseimbangan aktivitas insulin dan glukagon.  Kerja pemecahan atau katabolik banyak hormon dibantu oleh tiroksin.
            Epineprin (adrenalin) dan norepineprin (noradrenalin) dari adrenal medulla berfungsi membantu mobilisasi glikogen untuk menyediakan energi.  Namun, efek-efeknya juga mempengaruhi metabolisme protein dan lemak otot.  Pengaruh-pengaruh ini bisa berhubungan dengan kemampuan epineprin mengaktifkan reseptor-reseptor tertentu dari jaringan yang dikenal sebagai beta-reseptor.  Senyawa seperti hormon yang disebut beta-adrenergic agonist mempunyai struktur kimia yang mirip dengan epineprin dan norepineprin.  Senyawa ini disebut demikian karena keefektifannya dalam mengaktifkan beta-reseptor.  Di samping itu, senyawa ini juga efektif dalam membagi aktivitas agensia tertentu, misalnya mengubah atau membelokkan nutrien yang tersedia untuk pembentukan lemak ke arah akresi protein.  Ternak yang menerima senyawa ini akan menghasilkan karkas yang meningkat dan jumlah lemak karkas yang menurun.
            Somatomedin mungkin juga diproduksi di dalam otot.  Ternak yang memiliki lebih banyak otot, mungkin mampu memproduksi lebih banyak somatomedin dan mempunyai tulang-tulang yang lebih panjang, karena adanya pertumbuhan ekstra epipiseal tulang.  Pengaruh umum somatomedin adalah menstimulasi: (1) transpor glukosa; (2) masukan dan inkorporasi asam-asam amino ke dalam otot-otot ternak yang dihipopisektomi; (3) sintesis DNA di dalam sel-sel serabut, dan (4) sintesis kolagen.  Laju pertumbuhan spesifik domba dipengaruhi oleh level somatomedin serum.  Domba muda yang tumbuh cepat mempunyai level somatomedin serum lebih tinggi daripada domba yang tumbuh lambat.
            Ada beberapa somatomedin, yaitu: (1) somatomedin-A, fungsinya menstimulasi masukan sulfat oleh kartilago anak ayam; (2) somatomedin-B, menstimulasi sintesis DNA pada sel tertentu manusia; (3) somatomedin-C, menstimulasi masukan sulfat oleh kartilago tikus, dan (4) somatomedin-P, menstimulasi masukan sulfat oleh kartilago rusuk babi.
            MSA (multiplication-stimulating activity) atau faktor yang menstimulasi perbanyakan sel adalah suatu polipeptida yang mempunyai aktivitas seperti insulin.  Seperti somatomedin, MSA juga mempunyai aktivitas faktor sulfasi.  MSA dapat meningkatkan masukan asam-asam amino oleh mioblast sebelum terjadi kenaikan jumlah sel dan kandungan protein.  Chalone atau pembawa berita kimia adalah glikoprotein yang dapat menghambat mitosis, jadi menghambat pertumbuhan.  Pengaruhnya dapat bertentangan dengan aktivitas hormon.  Tipe jaringan tubuh yang berbeda mempunyai chalone sendiri-sendiri, dan identik pada banyak spesies yang berbeda.
            Estrogen dihasilkan oleh ovarium, plasenta dan korteks adrenal dalam bentuk estradiol, estron dan estriol.  Estrogen termasuk hormon katabolik yang antara lain menekan dan menghambat resorpsi tulang.  Estrogen meningkatkan masukan hormon pertumbuhan, dan pada ternak ruminansia, meningkatkan retensi nitrogen.  Tiroksin termasuk hormon steroid yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid di sekitar trakhea.  Hormon tiroid berfungsi mengatur metabolisme oksidatif dan produksi panas di dalam tubuh serta sintesis protein.  Kerja hormon-hormon tiroid dapat dikategorikan menjadi dua kelompok, yaitu: (1) mempromosikan pertumbuhan dan perkembangan, dan (2) kerja katabolik.
            Tiroksin menstimulasi pertumbuhan tubuh secara keseluruhan, pertumbuhan tulang, sistem saraf, dan laju metabolisme.  Defesiensi hormon ini akan menyebabkan hambatan pertumbuhan dan perkembangan.  Kerja metabolik hormon-hormon tiroid adalah membantu pembebasan energi dan bekerja terhadap mitokondria.  Tiroksin mempengaruhi metabolisme kalsium dan magnesium, dan membantu mengatur sekresi hidrokortison dari kelenjar adrenal dan STH dari adenohipopisis.  Sekresi hormon tiroid terutama diatur oleh TSH atau thyroid stimulating hormone.

6.      Perubahan Komponen Fisik dan Kimiawi Tubuh Selama Pertumbuhan dan

      Perkembangan


            Selama pertumbuhan  dan perkembangan, bagian-bagian dan komponen tubuh mengalami perubahan.  Jaringan-jaringan tubuh mengalami pertumbuhan yang berbeda dan mencapai pertumbuhan maksimal dengan kecepatan yang berbeda pula.  Komponen tubuh secara kumulatif mengalami pertambahan berat selama pertumbuhan sampai mencapai kedewasaan.  Jadi pertumbuhan mempengaruhi pula distribusi berat dan komposisi kimia komponen-komponen tubuh termasuk tulang, otot dan lemak.  Tulang, otot dan lemak merupakan komponen utama penyusun tubuh.
            Selama periode pertumbuhan postnatal, tulang tumbuh lebih awal dibandingkan dengan pertumbuhan otot dan lemak, dan rusuk merupakan tulang yang perkembangannya paling akhir.  Perkembangan otot terhambat karena terbatasnya ukuran serabut otot pada umur yang berbeda.  Keterbatasan ini tetap tidak dapat dilampaui, meskipun ternak yang dipelihara mengkonsumsi pakan yang berkualitas tinggi.  Jadi setelah otot mencapai pertumbuhan maksimal, pertambahan berat otot terjadi terutama karena deposisi lemak intramuskular.  Lemak akan ditimbun selama pertumbuhan dan perkembangan, dan karkas ternak dewasa dapat mengandung lemak sampai sekitar 30-40 persen. 
            Kadar laju deposisi lemak intramuskular dapat diubah tanpa mengubah pertumbuhan otot, yaitu dengan cara mengubah rencana nutrisi.  Deposisi lemak tidak tergantung pada pertambahan berat badan bebas lemak.  Jadi, untuk menghasilkan karkas dengan kandungan lemak yang diinginkan, rencana pemberian pakan tidak perlu memperhatikan perkembangan otot dan tulang, karena selain kepala, jaringan bebas lemak relatif tahan terhadap kekurangan nutrisi.
            Pola pertumbuhan organ seperti hati, ginjal dan saluran pencernaan menunjukkan adanya variasi, sedangkan organ yang berhubungan dengan digesti dan metabolisme menunjukkan perubahan berat yang besar sesuai dengan status nutrisional dan fisiologis ternak.  Kadar laju pertumbuhan relatif beberapa pertumbuhan nonkarkas hampir sama dengan kadar laju pertumbuhan tubuh, misalnya abomasum dan usus besar mencapai kedewasaan hampir bersamaan dengan tubuh.  Usus kecil tumbuh lebih cepat dan lebih cepat dewasa daripada usus besar dan abomasum.  Berat rumen, retikulum dan omasum meningkat dengan cepat pada awal kehidupan postnatal.  Meskipun demikian, berat total saluran pencernaan menurun pada saat mencapai kedewasaan.
            Pakan dapat mempengaruhi pertambahan berat komponen nonkarkas.  Domba yang mengkonsumsi pakan dengan kandungan energi tinggi mempunyai jantung, paru-paru dan ginjal yang lebih berat daripada domba yang mengkonsumsi pakan dengan kandungan energi rendah pada kondisi pemeliharaan di dalam kandang individu.  Konsumsi nutrisi tinggi meningkatkan berat hati, rumen, retikulum, omasum, usus besar, usus kecil dan total alat pencernaan, tetapi menurunkan berat kepala, kaki dan limpa.

7.  Analisis Pertumbuhan

            Proses pertumbuhan terjadi sejak konsepsi sampai saat kematian.  Pertumbuhan merupakan sintesis biologis yang menghasilkan senyawa-senyawa biokimia baru.  Proses penggandaan (penangkaran, multiplikasi), pemekaran (pembesaran, enlargement) dan inkorporasi materi dari luar, merupakan aspek perkembangan yang terlibat erat dengan proses pertumbuhan.  Pembelahan sel (cleafage) merupakan proses pertumbuhan yang diakibatkan oleh multiplikasi sel dan bukannya oleh pemekaran sel ataupun inkorporasi materi.  Butir-butir darah (blood corpuscles), monosit, sel-sel folikel rambut dan sel-sel ektoderm senantiasa tumbuh lewat multiplikasi.
            Jaringan syaraf dan tenunan otot kerangka tumbuh melalui proses pemekaran sel dan tidak melalui pembelahan sel.  Ada suatu konsensus umum yang menyebutkan bahwa pertumbuhan otot postnatal pada dasarnya merupakan proses pemanjangan dan pelebaran serabut otot dan bukannya peningkatan jumlah serabut otot.  Besarnya DNA dan RNA dalam otot merupakan kriteria untuk pengukuran jumlah sel dan ribosom masa kini.  Sementara itu substansi inklusiones non protoplasmik dapat meningkat akibat penggabungan dengan materi-materi sekitarnya.  Substansi inklusiones tersebut tumbuh tanpa melewati penggandaan sel maupun pemekaran sel.  Ada juga beberapa peningkatan, akan tetapi tidak dapat disebut sebagai pertumbuhan murni dan juga bukan pertumbuhan.  Contoh untuk kasus tersebut adalah teratomata., gigi dan syaraf.
            Dalam mempelajari pertumbuhan-perkembangan ini perlu diingat tentang diferensiasi dan morfogenesis.  Diferensiasi disebut juga sitogenesis atau histogenesis, merupakan suatu proses transpormasi sel-sel induk, misalnya sel-sel telur menjadi berbagai macam sel anak.  Sel-sel anak yang dimaksud antara lain sel-sel ginjal dan hati.  Diferensiasi merupakan proses pantang balik, contohnya sel-sel telur dapat dibentuk menjadi sel hati, tetapi sebaliknya sel hati tidak dapat diubah kembali menjadi sel telur.  Di dalam diferensiasi terjadi dua peristiwa yaitu: (1) peningkatan jumlah macam sel, dan (2) terjadi peningkatan heterogenitas morfologis.
            Di samping diferensiasi, dalam perkembangan terjadi pula proses morfogenesis.  Morfogenesis merupakan pengaturan (organisasi) berbagai sel menjadi organ khusus dengan bentuk yang khusus pula.  Termasuk ke dalam morfogenesis adalah pengorganisasian berbagai sistem organ ke dalam suatu batang tubuh yang utuh.  Pertumbuhan-perkembangan organ-organ tubuh banyak dipelajari baik dalam bidang biologi maupun bidang produksi ternak, terutama dalam menetapkan organ-organ yang layak dimakan.  Untuk sampai pada tujuan tersebut, dalam pertumbuhan-perkembangan hewan terlibat proses-proses metabolisme yang melibatkan peranan enzim dan hormon-hormon. 

8.  Kurva Pertumbuhan

            Bobot atau masa hewan yang dicatat semenjak konsepsi sampai dengan saat kematian menunjukkan kurva pertumbuhan yang berbentuk sigmoid (huruf S).  Berdasarkan besarnya kecepatan pertumbuhan, dapat dibedakan dua macam (fase) pertumbuhan yang dibatasi oleh titik belok (titik infleksi).  Fase pertumbuhan yang dimaksud adalah (1) fase akselerasi atau fase pertumbuhan dini dan (2) fase retardasi atau pertumbuhan senja atau fase pertumbuhan lambat.
            Pada fase akselerasi terjadi pertumbuhan yang cepat dengan laju pertumbuhan yang tinggi.  Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan masa kian meningkat dari waktu ke waktu selama fase tersebut.  Sebaliknya pada fase retardasi terjadi pertumbuhan yang lambat dengan laju pertumbuhan yang kecil.  Pada fase akselerasi bekerja daya percepatan diri sedangkan pada fase retardasi bekerja daya penghambatan diri.  Pada fase pertama anabolisme lebih intensif dari pada katabolisme, sedangkan yang tersebut berikutnya katabolik berperan lebih aktif dari pada anabolisme.

Bobot masa


 
                                                                                     Fase retardasi



 
                                                               Titik belok (titik inflaksi)

                                          Fase akselerasi

          
                                                                                             Umur

Gambar 1.  Kurva pertumbuhan Normal
                   
            Pertumbuhan retardasi berkaitan dengan kegagalan DNA untuk bereplikasi atau untuk mendukung sintesis protein sel.  Hal ini disebabkan oleh  ketidak seimbangan hormon, anomali kromosom, radiasi, obat, racun, hipaksia, overaktivitas simpatetik atau karena infeksi. 
            Terjadinya penurunan sintesis protein disebabkan karena rendahnya masukan protein, hilangnya protein, kegagalan transpor asam amino ke dalam sel (misalnya dalam kasus penderita sakit ginjal atau pada kondisi ketidak seimbangan elektrolit) dan defisiensi hormon atau karena rasio asam-asam amino yang abnormal seperti pada kondisi hiperglikemia.
            Pada titik infleksi, kecepatan pertumbuhan melaju seimbang dengan besarnya penghambatan pertumbuhan.  Secara umum pada kondisi tersebut, anabolisme bekerja seimbang dengan katabolisme.  Beberapa kejadian yang spesifik dapat dicatat pada titik inflaksi tersebut, sebagai dikemukakan berikut ini: (1) Pada titik tersebut, peningkatan kecepatan pertumbuhan terhenti; (2) Penurunan kecepatan pertumbuhan belum dimulai (baru akan dimulai); (3) Pertambahan bobot atau masa (gain) mencapai titik yang paling tinggi; (4) Dapat diperkirakan perhitungan yang paling ekonomis; (5) Laju pertumbuhan (change in turn of growth) atau perubahan waktu pertumbuhan sama pada semua hewan atau populasi hewan; (6) Pada titik infleksi terjadi fase fisiologis yang mengarah pada pubertas.  Pada tikus titik infleksi kedapatan pada hari ke 65 atau 85 hari setelah konsepsi; (7) Pada titik tersebut, vagina tikus betina mulai membuka; (8) Pada kanak-kanan titik infleksi terjadi pada umur 12-15 tahun pada saat pemunculan pubertas.
            Dengan adanya titik infleksi dapat diketahui beberapa hal yang penting : (1) Terdapat kecepatan pertumbuhan yang maksimal, (2) merupakan saat terjadinya pubertas, (3) tercatat mortalitas yang paling rendah, (4) ekuivalensi umur hewan atau populasi atas dasar pertimbangan geometrik dan (5) pada titik tersebut terdapat tetapan pertumbuhan yang penting.  Titik infleksi pada manusia terdapat pada umur 14 tahun yang berarti 60 persen daripada pertumbuhan dewasa telah dicapai.  Sementara itu ternak sapi dan domba mencapai umur dewasa 30 persen berturut-turut pada umur enam dan dua bulan.

9.  Pertumbuhan Kompensasi

            Ternak yang kekurangan makan atau gizi yang kurang baik, sudah tentu pertumbuhannya lambat atau terhenti, bahkan berat badan menurun.  Setelah mendapatkan makanan yang cukup, tumbuh kembali dengan cepat bahkan melebihi dari pertumbuhan normal.  Pertumbuhan yang demikian inilah yang disebut dengan pertumbuhan kompensasi (pertumbuhan menyusul).  Adapula pertumbuhan kompensasi tipe lain, misalnya pengambilan suatu ginjal dapat menstimulasi pertumbuhan ginjal yang satunya lagi;pnya serabut otot karena suatu penyakit, dapat memacu pertumbuhan ekstraradial serabut otot yang masih hidup.
            Kompensasi kadang-kadang dapat terjadi secara sempurna, atau bahkan lebih dari sempurna, tetapi yang paling sering terjadi adalah kompensasi tidak sempurna yang disebut dengan stunting atau kompensasi gagal.  Pada umumnya, makin awal terjadinya stres karena kekurangan gizi dan makin lama periode kekurangan makanan, pertumbuhan kompensasi makin tidak sempurna.  Ada suatu periode kritis pada semua ternak mamalia  bila pusat-pusat hipotalamus sedang diorganisasikan untuk menyesuaikan diri dengan ukuran organisme yang sedang tumbuh.  Jadi jika ternak mempunyai fisik kecil pada umur tertentu, hipotalamus akan diprogramkan untuk mengontrol konsumsi pakan bagi pertumbuhan ternak kecil dan bukan bagi ternak yang lebih besar.  Babi, domba dan sapi yang pada saat lahir mempunyai fisik kecil, karena kurang mendapat gizi yang cukup selama pregnansi, atau karena berasal dari jumlah kelahiran yang lebih banyak, jarang mencapai kompensasi sempurna.
                 



             

Tidak ada komentar: